17 October 2010 Comments Off

RINGKASAN MATERI BAHASA INDONESIA KELAS XI IPA/IPS

MATERI BAHASA INDONESIA
SMA NEGERI 1 PRAYA TIMUR
KELAS XI IPA/IPS SEMESTER I
TAHUN PELAJARAN 2010-2011

OLEH
MUHAMMAD ZULKIFLI, S.Pd
NIP 198304212006041017

HIBURAN
1.1 Membaca Intensif
1.1.1 Menemukan Gagasan Utama Melalui Membaca Intensif
1.1.2 Paragraf Induktif dan Deduktif
1.2 Membaca Berita
1.3 Kata Baku dan Tidak Baku
BAB 2 SASTRA MELAYU
2.1 Membaca dan Menganalisis Hikayat
2.1.1 Apresiasi Hikayat Hang Tuah
2.1.2 Hikayat Hang Tuah
2.2 Resensi
2.2.1 Apakah Resensi Itu?
2.2.2 Membaca Resensi Fiksi
2.2.3 Menulis Resensi Buku Fiksi
2.3 Ungkapan
BAB 3 KEGIATAN
3.1 Menyusun Proposal Kegiatan
3.2 Menyusun Karya Tulis
3.2.1 Ketentuan Umum
3.2.2 Sistematika Karya Ilmiah
3.2.3 Kutipan, Daftar Pustaka, dan Catatan Kaki
3.3 Ringkasan Wawancara
3.4 Menjelaskan Hasil Wawancara
BAB 4 KESEHATAN
4.1 Menjelaskan Isi Artikel
4.1.1 Membaca Artikel
4.1.2 Memahami Artikel
4.1.3 Membuat Majalah Dinding
4.2 Membaca dan Menganalisis Kutipan Novel
4.2.1 Kutipan Novel
4.2.2 Analisis Novel
BAB 5 KETERTIBAN
5.1 Sambutan/Khotbah
5.1.1 Mendengarkan dan Mencatat Pokok-pokok Sambutan
5.1.2 Mendengarkan Ceramah di Televisi atau Radio
5.2 Kalimat Baku dan Tidak Baku
5.3 Surat Kuasa
BAB 6 DRAMA I
6.1 Mengidentifikasi Pementasan Drama
6.2 Menanggapi Pementasan Drama
6.2.1 Menghayati Watak Tokoh
6.2.2 Pementasan Drama
6.2.3 Memberi Tanggapan untuk Pementasan Drama
BAB 7 PENDIDIKAN
7.1 Membaca Cepat
7.1.1 Melatih Gerak Mata
7.1.2 Mengukur Kecepatan Membaca
7.1.3 Praktik Membaca Cepat
7.1.4 Pemahaman Teks
7.2 Buku Biografi
7.3 Kata Penghubung
7.4 Menulis Rangkuman/Rangkuman
7.4.1 Cara Membuat Ringkasan
7.4.2 Ringkasan Buku yang Dipublikasikan
7.4.3 Membaca Teks  
BAB I HIBURAN

1.1 Membaca Intensif
1.1.1 Menemukan Gagasan Utama Melalui Membaca Intensif

Bacalah teks berikut ini dengan saksama dan temukan gagasan utamanya!

Max Havelaar dari Bantul
Miroto dan seniman Yogya mementaskan Ketoprak Gempa. Bersatu karena musibah gempa.
Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pementasan teater modern daripada ketoprak.
Di panggung juga tak ada tari tradisional seperti gambyong. Yang muncul adalah sebuah koreografi tari ciptaan Miroto. Perang salto yang biasanya muncul dalam ketoprak tradisional pun digantikan oleh gerak penari secara kolosal.
Ya, inilah Ketoprak Gempa garapan Forum Seniman Gumregah. Modelnya tetap ketoprak tradisional Mataraman. Ada pelawak, ada tokoh bupati atau demang, juga ada penari. Hanya, kemasan panggung, tata lampu, dan tarinya tak mengikuti pakem.
“Tariannya saya cuplik dari banyak koreografi saya sebelumnya, seperti Dancing Shadow dan dari film Opera Jawa,” tutur Miroto, yang menjadi produser pertunjukan ini. “Saya kira ini tafsir baru seni tradisi ketoprak,” ucapnya.
Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.
Tawa lepas sekitar 500 penonton di Gedung Societet Yogyakarta, pekan lalu, muncul setelah pelawak Marwoto Kawer dan Susilo Nugroho (pendiri Teater Gandrik), juga Yani Sapto Hoedojo, yang menjadi Nyonya Belanda dari Banyumas, menghidupkan panggung. Selain mereka, ada pula pemain ketoprak kawakan, Widayat, yang berperan sebagai bupati. Juga Sundari, sang istri, yang luwes dan kenes.
Marwoto dan Susilo memerankan tokoh yang selalu kritis terhadap keadaan. Masing-masing memerankan Multatuli dan Max Havelaar, yang selalu bersitegang tentang siapa yang bisa mengubah hidup rakyat: penguasa atau penulis. Juga tentang bagaimana penguasa harus bersikap. “Ayo, ayo podo toh-tohan (ayo taruhan). Sing iso (yang bisa) mengubah keadaan Max Havelaar utowo Multatuli?” ucap Marwoto.
Ketoprak Gempa, yang dipentaskan di Solo dua pekan lalu, serta Yogyakarta pekan lalu, dan Jakarta pekan ini, terbentuk secara tak sengaja. Sebagian besar pemain dan pengrawit adalah korban bencana gempa. Rumah mereka roboh. Bahkan sampai kini masih ada yang hidup di tenda. Tapi mereka segera bangkit. Secara bergiliran mereka pentas berkeliling, menghibur sesama korban gempa di Bantul.
Suatu hari, Miroto mengunjungi teman-temannya itu. Melihat keadaan mereka, dia tidak tega. Dia pun berinisiatif ingin mengalihkan undangan pentas Panji Penumbra dari Kedutaan Belanda kepada mereka. Gayung bersambut, Kedutaan sepakat dan senimannya sanggup bergabung. “Saya bersyukur rumah saya masih utuh. Berkumpulnya para seniman ini wujud syukur saya,” ujarnya.
Jadilah pentas rekonsiliasi seniman di panggung ketoprak. Mereka datang dari kelompok yang berbeda, bahkan berseberangan prinsip. Mereka yang dulu sikut-sikutan, di sini berangkulan. “Saya bersyukur. Berkat gempa, semua kembali penuh canda,” tutur Bondan Nusantara, seorang pemain ketoprak.
“Dan pertunjukan mereka bagus dan sangat teatrikal,” kata budayawan Sindhunata, yang merasa terhibur oleh pertunjukan itu. LN Idayanie (Yogyakarta)
Sumber: Tempo, 25 September – 1 Oktober 2006
TUGAS KELOMPOK
Setelah Anda membaca teks Max Havelaar dari Bantul, diskusikan tugas berikut!
1. Buatlah kelompok diskusi beranggotakan maksimal 4 orang!
2. Diskusikan gagasan utama yang yang terdapat pada setiap paragraf terks tersebut!
3. Tuliskan hasil diskusi Anda secara kelompok!
4. Buatlah contoh 1 paragraf deduktif dan 1 contoh paragraf induktif yang masing-masing terdiri atas 5 kalimat!

1.1.2 Paragraf Induktif dan Deduktif
Sebuah paragraf memiliki satu kalimat topic/utama/inti dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat topik berisi gagasan utama dan kalimat penjelas berisi gagasan penjelas.

Perhatikan kutipan teks berikut ini!
Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pentas teater modern daripada ketoprak.

Paragraf di atas terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) dan (2) adalah kalimat penjelas dan kalimat (3) adalah kalimat topik. Maka, gagasan utama paragraf di atas adalah kalimat (3). Karena gagasan utama paragraf terletak di akhir paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf induktif.

Perhatikan kutipan teks berikut ini!
Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.

Paragraf tersebut terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) adalah kalimat topik dan kalimat (2) dan (3) adalah kalimat penjelas. Maka, gagasan utama paragraf tersebut adalah kalimat (1). Karena gagasan utama paragraf terletak di awal paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf deduktif.

TUGAS INDIVIDU
Tulislah PI jika paragraf induktif dan PD jika paragraf deduktif!
1. Ada lagi, David Beckham, gelandang Real Madrid yang macho dan maskulin. Suami Victoria Adam, mantan vokalis Spice Girls itu, adalah pria metroseksual. Beckham dihafal banyak orang lantaran wajah gantengnya. Pesona maskulinnya menembus pikiran publik hawa meski mereka tak seluruhnya paham soal menyepak bola.
2. Mereka punya pesona. Ibarat magnet, mereka bisa menyita simpati massa. Orang terkagum-kagum. Pesona mereka masing-masing menjadi identifikasi fantasi publik. Mereka adalah idola.
3. Kegirangan sontak membahana saat pembaca acara AFI, Adi Nugroho, menyatakan Veri sebagai pemenang dan berhak atas hadiah mobil Toyota Avanza. Dengan agak gugup, Veri kemudian mengacungkan simbol kunci mobil baru itu. Ciuman ucapan selamat silih berganti datang dari sesama akademia. Itulah puncak hidup remaja asal daerah nun jauh di Sumatra Utara tersebut, yang tidak akan pernah dilupakan sepanjang hayatnya.
4. Itu terjadi sesudah ujung selendang dan kain pembungkus kedok yang semula menutupinya ia sentakkan. Muncullah dia, Sang Panji, sebuah wajah dengan mata setengah terpejam dan bibir menyungging senyum. Dengan warna dasarnya yang putih, dengan tegak tubuhnya, dengan kaki-kakinya yang menancap kukuh di bumi, tetapi punggung, leher, kepala, dan lengan-lengannya leluasa untuk bergerak, ia melambangkan pandangan ideal atas hidup. Itulah pandangannya tentang manusia yang tetap berurusan dengan dunia, tapi kesadarannya menerobos batas-batas fisik yang mendukungnya.
5. Ia menjadi seorang yang galak dan lincah di dalam tari pamindo. Penonton mengenali beberapa gerak yang ia ambil dari gerak seharihari, seperti mencuci baju dan mencari kutu di rambut yang kemudian ditindas dengan kuku. Namun begitu, gerak sehari-hari itu tidak menjadi gangguan, tidak seperti yang terjadi pada banyak tari kontemporer yang berniat mengubah tingkah sehari-hari menjadi bagian dari tari.

1.2 Membaca Berita

Berlatihlah membaca berita berikut!

Selamat petang para pemirsa dan juga selamat berbuka puasa, kembali kami hadirkan Liputan 6 Petang bersama saya, Bayu Sutiono, dengan topik utama mengenai tindakan TNI mempersempit ruang gerak GAM di daerah Cot Prieng.
TNI mengambil inisiatif untuk mempersempit daerah GAM dari radius 9 km menjadi 4 km, hal ini ditujukan untuk menambah efektivitas kegiatan TNI dalam menghadapi GAM, seperti yang dinyatakan oleh Mayjen TNI Djalil Jusuf di Nangroe Aceh Darussalam. Dalam operasi penyempitan daerah GAM tersebut, TNI berhasil menyita sejumlah dokumen dan persenjataan milik anggota GAM.
Sementara itu, di Jakarta, Kapolri Dai Bacthiar menjanjikan bahwa pihak kepolisian akan menarik status kesatuan Brimob yang ditempatkan di Nangroe Aceh Darussalam, jika pada, tanggal 9 Desember mendatang tercapai perjanjian damai antara, pihak In donesia dengan GAM. Lebih lanjut lagi, Beliau menyatakan bahwa status Brimob yang ditempatkan di sana, akan diubah menjadi polisi umum yang hanya bertugas untuk mengatasi masalah-masalah sipil dan bukan masalah-masalah militer seperti yang dilakukan saat ini.
Seorang korban tewas akibat terkena, ledakan petasan di daerah Kudus, Semarang, provinsi Jawa Tengah. Korban bernama Mat Khoiril, merupakan seorang pelajar SMU kelas 2 yang saat itu sedang membuat sebuah petasan.Korban meninggal dalam perjalanan menuju RS terdekat.Selain korban sendiri, 2 orang saudara korban juga mengalami luka parah, yakni Khairul Imam dan Esa Yulianto.Keduanya sampai saat ini masih dirawat secara intensif.
Beralih ke daerah Sumatra Selatan, bekas galian tambang milik PT Bukit Asam, di daerah Muara Enim, mengalami longsor dan akibatnya menyebabkan salah satu tower listrik milik PLN di sekitar tempat tersebut runtuh.Hal tersebut mengakibatkan sekitar 100.000 pelanggan PLN di kawasan tersebut mengalami pemutusan listrik.Pihak PT Bukit Asam berjanji untuk memberikan ganti rugi, namun sampai saat ini, pihak PLN belum memberikan rincian mengenai jumlah kerugian yang diderita oleh PLN akibat longsornya galian tambang Bukit Asam.
Berikutnya kami akan menyajikan laporan arus mudik dalam rangka menyambut hari Lebaran. Pada siang hari tadi terjadi kemacetan sepanjang 8 km di rute Kandang Haur Patrol, Jawa Barat. Berdasarkan hasil pantauan udara Dwi Guntoro, kemacetan tersebut disebabkan karena adanya penyempitan jalan yang semula terdiri dari 4 jalur menjadi hanya 2 jalur saja. Menurut pihak kepolisian, kemacetan akan semakin bertambah parah menjelang pukul 21.00, oleh karenanya, dihimbau agar para pengguna jalan menghindari rute tersebut pada malam hari dan mencari jalan alternative lainnya.
Pihak kepolisian juga memberikan peringatan mengenai memuncaknya kemacetan di rute-rute luar kota, yang diperkirakan akan terjadi pada H-4 dan H-3.
Berita terakhir tersebut mengakhiri perjumpaan kita untuk petang hari ini. Saya, Bayu Sutiono, bersama seluruh kerabat kerja Liputan 6 Petang mengucapkan banyak terima kasih atas kebersamaan para pemirsa sekalian, selamat malam, dan sampai jumpa.
Naskah Berita Liputan 6 Petang SCTV 1 Desember 2002

Untuk dapat menjadi pembaca berita yang baik perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. lafal dan pengucapan yang jelas;
2. intonasi yang benar;
3. sikap yang benar.
Dalam menyampaikan berita, intonasi dapat menimbulkan bermacam arti. Keras lambatnya suara atau pengubahan nada, dan cepat lambatnya pembacaan dapat digunakan sebagai penegasan, peralihan waktu, perubahan suasana, maupun perenungan. Dalam membacakan berita hendaknya diutamakan pelafalan yang tepat. Gerak-gerik terbatas pada gerak tangan, lengan atau ke-pala. Segala gerak tersebut lebih banyak bersifat mengisyaratkan (bernilai sugestif) dan jangan berlebihan.
Untuk menimbulkan suasana khusus yang diperlukan dalam pembacaan, suara lebih efektif dengan didukung oleh ekspresi wajah. Air muka (mimik) dan alunan suara yang pas lebih efektif untuk meningkatkan suasana. Senyum atau kerutan kening juga dapat membantu penafsiran teks. Perhatikan pula kontak pandangan Anda dengan pendengar (penonton), terutama bila membacakan berita melalui media televisi atau kontak langsung dengan pendengarnya.
Jadi, membaca berita adalah menyampaikan suatu informasi atau berita melalui membaca teks berita dengan lafal, intonasi, dansikap secara benar.

TUGAS INDIVIDU
Dengar, catat dan perhatikanlah pembacaan berita di televisi dan cobalah untuk berlatih membaca berita!
1.3 Kata Baku dan Tidak Baku
Perhatikan Kalimat Berikut!

TNI mengambil inisiativ untuk mempersempit daerahGAM dari radius 9 km menjadi 4 km, hal ini ditujukan untukmenambah efektifitas kegiatan TNI dalam menghadapi GAM,seperti yang dinyatakan oleh Mayjen TNI Djalil Jusuf diNangroe Aceh Darussalam. Dalam oprasi penyempitandaerah GAM tersebut, TNI berhasil menyita sejumlahdokumen dan persenjataan milik anggota GAM.

Kata-kata yang digaris bawah di atas adalah kata-kata yangtidak baku. Untuk mengetahui sebuah kata itu baku atau tidak, Andadapat melihatnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Berikut ini contoh kata-kata tidak baku yang sering Anda jumpai.
Kata tidak baku
sistim, technik, thema, izajah, resiko, apotik,export, nopember, konggres, hakekat, sastera,
Kata baku
sistem, teknik, tema, ijazah, risiko, apotek,ekspor, November, kongres, hakikat, sastra.

TUGAS INDIVIDU
Cermatilah kata-kata berikut, termasuk kata baku atau kata tidak baku! Jika Anda menemukan kata tidak baku, ubahlah kata itu menjadi kata baku!

zaman, hirarki, azas, hierarki, Islam, islam, cidera,
cedera, keterampilan, ketrampilan, faham, foto kopy, anggauta
mabok, masarakat, analisa, Ijin, kwitansi, berjoang jaman

BAB 2 SASTRA MELAYU

2.1. Membaca dan Menganalisis Hikayat
2.1.1 Apresiasi Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah merupakan bentuk hikayat Melayu asli dan tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya.Sikap kepahlawanan Hang Tuah yang tak tertandingi menyebabkan hikayat tersebut tetap berkembang dan hidup di masyarakat.Namanya harum dan menjadi teladan bagi putra-putri bangsa.Lama-kelamaan orang menganggapnya bukan sekadar pahlawan biasa tetapi dianggap seorang titisan dewa yang disanjung-sanjung karena kesaktiannya. Hang Tuah lahir dari keluarga biasa dekat Sungai Duyung di Tanah Malaka. Ayahnya bernama Hang Mahmud dan Ibunya Dang Merduwati.Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, tempat raja bersemayam, dengan harapan mendapat rezeki di situ.Mereka membuka warung dan hidup sangat sederhana.
Semua sahabat Hang Tuah berani.Mereka itu adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.Pernah suatu ketika mereka berlima pergi berlayar.Di tengah lautan dihadang oleh gerombolan perampok yang banyak sekali. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke darat. Di sana mereka melakukan perlawanan.Sepuluh perampok mereka tewaskan, sedangkan yang lain melarikan diri. Dari beberapa orang yang dapat ditawan, mereka mengaku dari daerah Siantan dan Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit.Sebenarnya mereka diperintahkan untuk menyerang Palembangtetapi angin kencang membawa mereka tersesat di Melaka.Akhirnya,keberanian Hang Tuah dan kawan-kawannya sampai juga kepadaraja sehingga raja berkenan kepada mereka.Suatu ketika ada orangyang mengamuk di pasar.Orang-orang lari ketakutan. Hang Tuahjugalah yang dapat membunuh orang itu. Hang Tuah lalu diangkatmenjadi biduan istana (pelayan raja). Saat itu dia diminta menyerangke Palembang yang diduduki orang Siantan dan Jemala. Hang Tuahsukses, lalu dia diangkat menjadi Laksamana. Berkali-kali Hang Tuahdiutus ke luar negeri; ke Tiongkok, Rum, Majapahit, dan dia pernahpula naik haji.Akhir hayatnya, Hang Tuah berkhalwat di TanjungJingara.
Di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan nama Hang Tuahdan Hang Lekir diabadikan sebagai nama jalan. Hal itu merupakanwujud dari melegendanya nama mereka.

2.1.2 Hikayat Hang Tuah

Bacalah kutipan Hikayat Hang Tuah berikut ini!

Hang Tuah Diutus ke Majapahit
Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda.
Maka Laksamana pun menjunjung duli.Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar.
Beberapa lamanya berlayar itu, maka sampailah ke Tuban.Maka Rangga dan Barit seketika pun berjalan naik ke Majapahit.Beberapa lamanya maka sampailah ke Majapahit.
Maka dipersembahkan Patih Gajah Mada kepada Batara Majapahit, “Ya, Tuanku, utusan daripada anakanda Ratu Melaka datang bersamasama dengan Rangga dan Barit Ketika; Laksamana panglimanya.”
Setelah Sri Batara mendengar sembah Patih Gajah Mada demikian itu, maka titah Sri Batara, “Jika demikian, segeralah Patih berlengkap.”
Maka sembah Patih Gajah Mada, “Ya Tuanku, adapun patik dengar Laksamana itu terlalu sekali beraninya, tiada berlawan pada tanah Melayu itu.Jikalau sekiranya dapat patik hendak cobakan beraninya itu.”
Maka titah Sri Batara, “Mana yang berkenan pada Patih, kerjakanlah!”
Maka Patih pun menyembah lalu keluar mengerahkan segala pegawai dan priyayi akan menyambut surat itu. Setelah sudah lengkap, maka pergilah Patih dengan segala bunyi-bunyian.
Hatta maka sampailah ke Tuban.Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun berlengkap memakai pakaian yang indah-indah. Maka surat dan bingkisan itu pun dinaikkan oleh Laksamana ke atas gajah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun naik kuda. Maka Rangga dan Barit Ketika pun naik kuda mengiringkan Laksmana. Maka di hadapan Laksamana orang berjalan memikul pedang berikat empat bilah berhulukan emas dan tumbak pengawinanbersampakemas empat puluh bilah dan lembing bersampakkan emas bertanam pudi yang merah empat puluh rangkap.Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang terlalu ramai. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak oranglah ke Majapahit.
Hatta beberapa lamanya berjalan itu, maka sampailah.Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun turun dari atas kuda, berjalan di atas gajah.Maka Rangga pun berjalan serta berkata, “Mengapa maka Laksamana turun dari atas kuda itu?Baik Laksamana naik kuda!”Maka kata Laksamana, “Hai Rangga, adapun adat segala hulubalang Melayu itu, apabila nama tuannya dibawa pada sebuah negeri itu, maka hendaklah sangat-sangat dihormatkan dan takutkan nama tuannya itu. Jikalau sesuatu peri suratnama tuannya itu, sehingga mati sudahlah; yang memberi aib itu sekali-kali tiada ia mau, dengan karena negeri Majapahit itu negeri besar.”
Setelah Rangga mendengar kata Laksamana demikian itu, maka ia pun diam, lalu turun berjalan sama-sama dengan Laksamana. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak masuk ke dalam kota, terlalu ramai orang melihat terlalu penuh sesak sepanjang jalan dan pasar. Maka kata Patih Gajah Mada pada penjurit dua ratus itu, “Hai, kamu sekalian, pergilah kamu mengamuk di hadapan utusan itu, tetapi engkau mengamuk itu jangan bersungguh- sungguh, sekadar coba kamu beraninya. Jika ia lari, gulung olehmu sekali. Jika ia bertahan, kamu sekalian menyimpang, tetapi barang orang kita, mana yang terlintang bunuh olehmu sekali, supaya main kita jangan diketahui.”
Maka penjurit dua ratus itu pun menyembah, lalu pergi ke tengah pasar. Waktu itu sedang ramai orang di pasar, melihat orang mengarak surat itu. Maka penjurit itu pun berlari-lari sambil menghunus kerisnya, lalu mengamuk di tengah pasar itu, barang yang terlintang dibunuhnya.Maka orang di pasar itu gempar, berlari-lari kesana-kemari, tiada berketahuan.Maka penjurit dua ratus itu pun datanglah ke hadapan Laksamana; dan anak bayi priayi di atas kuda itu pun terkejut melihat orang mengamuk itu terlalu banyak, tiada terkembali lagi.Maka barang mana yang ditempuhnya, habis pecah.Maka segala pegawai itu pun habis lari beterjunan dari atas kudanya, lalu berlari masuk kampong orang.Maka segala orang yang memalu bunyi-bunyian itu pun terkejutlah, habis lari naik ke atas kedai, ada yang lari ke belakang Laksamana.Setelah dilihat oleh Laksamana orang gempar itu tiada berketahuan lakunya, maka segala orang yang di hadapan Laksamana itu pun habis lari.Maka prajurit yang dua ratus itu pun kelihatanlah.Dilihat orang yang mengamuk itu terlalu banyak, seperti ribut datangnya, tiada berkeputusan. Maka Laksamana pun tersenyum-senyum seraya memegang hulu keris panjangnya itu.
Maka Hang Jebar, Hang Kesturi pun tersenyum-senyum, seraya memegang hulu kerisnya, berjalan dari kiri kanan Laksamana.
Maka Rangga dan Barit Ketika pun terkejut, disangkanya orang yang mengamuk itu bersungguh-sungguh. Maka Rangga pun segera menghunus kerisnya, seraya berkata, “Hai Laksamana, ingatingat, karena orang yang mengamuk itu terlalu banyak.”
Maka sahut Laksamana seraya memengkis, katanya,”Cih, mengapa pula begitu, bukan orangnya yang hendak digertak-gertak itu.”
Maka Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalanlah seorang orang Melayu pun tiada yang undur dan tiada bergerak.
Maka kata Laksamana, “Hai segala tuan-tuan sekalian, seorang pun jangan kamu undur dan bergerak.Jika kamu undur, sekarang ini juga kupenggal leher kamu!”
Maka dilihat oleh Barit Ketika, orang mengamuk banyak datang
seperti belalang itu, maka Barit Ketika pun segera undur ke bela- kang gajah itu. Maka prajurit yang dua ratus itu pun berbagi tiga, menyimpang ke kanan dan ke kiri dan ke hadapan Laksamana mengamuk itu, ke belakang Laksamana.Maka Laksamana pun berjalan juga di hadapan gajah itu.Maka prajurit itu pun berbalik pula dari belakang Laksamana.Maka Barit Ketika pun lari ke hadapan berdiri di belakang Laksamana itu.Maka, Laksamana pun tersenyum-senyum seraya berkata, “Cih, mengapa begitu, bukan orangnya yang hendak digertak gerantang itu.”
Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalan juga, dengan segala orangnya dan tiada diindahkannya orang mengamuk itu. Maka Rangga, dan Barit Ketika pun heran melihat berani Laksamana dan segala Melayu-melayu itu, setelah dilihat oleh penjurit dua ratus itu, Laksamana dan segala orangnya tiada bergerak dan tiada diindahkannya lawan itu, maka prajurit itu pun mengamuk pula ke belakang Laksamana. Seketika lagi datang pula prajurit itu mengamuk ke hadapan Laksamana, barang yang terlintang dibunuhnya dengan tempik soraknya, katanya, “Bunuhlah akan segala Melayu itu,” seraya mengusir ke sana kemari barang yang terlintang dibunuhnya. Maka prajurit dua ratus itu pun bersungguh-sungguh rupanya.
Maka, sahut Laksamana, “Jika sebanyak ini prajurit Majapahit, tiada, kuindahkan; tambahkan sebanyak ini lagi, pun tiada aku takut dan tiada aku indahkan.Jikalau luka barang seorang saja akan Melayu ini, maka negeri Majapahit ini pun habislah aku binasakan, serta Patih Gajah Mada pun aku bunuh,” serta ditendangnya bumi tiga kali.Maka bumi pun bergerak-gerak.Maka, Laksamana pun memengkis pula, katanya “Cih, tahanlah bekas tanganku baik-baik.”
Maka, prajurit itu pun sekonyong-konyong lari, tiada berketahuan perginya. Maka, surat dan bingkisan itu pun sampai-lah ke peseban. Maka surat itu pun disambut oleh Raden Aria, lalu dibacanya di hadapan Sri Batara. Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun naik ke peseban.Maka segala bingkisan itu pun disambut oranglah. Maka, titah Sri Batara, “Hai Laksamana, kita pun hendak mengutus ke Melaka, menyuruh menyambut anak kita Ratu Malaka, karena kita pun terlalu amat rindu dendam akan anak kita. Di dalam pada itu pun yang kita harap akan membawa anak kita kedua itu ke Majapahit ini hanyalah Laksamana.”
Maka, sembah Laksamana, “Ya Tuanku, benarlah seperti titah andika Batara itu.”
Maka Batara pun memberi persalin akan Laksamana dan Hang
Jebat, Hang Kesturi dengan selengkap pakaian.Maka titah Sri Batara, “Hai Laksamana, duduklah hampir kampong Patih Gajah Mada.”
Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku, mana titah patik junjung.”
Maka Sri Batara pun berangkat masuk. Maka Patih Gajah Mada, dan Laksamana pun bermohonlah, lalu keluar kembali ke rumahnya. Maka akan Laksamana pun diberi tempat oleh Patih Gajah Mada hampir kampungnya.
Sumber: Bunga Rampai dari Hikayat Lama karya Sanusi Pane, Hal. 105-109 dan 138

2.2 Resensi
Anda ingin mendapatkan informasi buku terbaru? Anda tak perlu membelinya, Anda cukup membaca resensi buku. Dengan membaca resensi, Anda mendapat ulasan sebuah buku.
Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda, resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah. Pada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia disebutkan bahwa resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan buku. Resensi buku lebih dikenal dengan istilah timbangan buku.
Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi. Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.
Pembuat resensi disebut resensator. Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi.

Syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan sebuah resensi.
1. Ada data buku, meliputi nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.
2. Pendahuluannya berisi perbandingan dengan karya sebelumnya, biografi pengarang, atau hal yang berhubungan dengan tema atau isi.
3. Ada ulasan singkat terhadap buku tersebut.
4. Harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat itu ditujukan.
Bacalah resensi kumpulan cerpen berikut dan cermati bagianbagiannya!

Membuka Selubung Bangsawan Melayu
Judul buku : Pahlawan dan Cerita Lainya, Mozaik Melayu Modern.
Judul asli : Heroes and Other Stories
Penulis : Karim Raslan
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun : 2006
Tebal : 164 halaman
Kumpulan cerita pendek Karim Raslan menelanjangi kehidupan bangsawan Malaysia. Gaya bahasanya lugas, tajam, bahkan sarkastis.
Puluhan tahun ia menggenggam rahasia itu. Segala tentang dia luar biasa cerdas, tampan, lajang, dan santun kecuali, satu hal: kakinya. Satu peristiwa tragis terjadi, sesudah itu sang kaki lumpuh. Nazrin, nama lelaki itu. Ia masih 20-an tahun ketika peristiwa itu terjadi, 30 Mei 1969. Di Penang, waktu ia menemani seorang utusan perdana menteri, aksi kekerasan meletup. Tulang kakinya remuk, sedangkan sang utusan menghilang, menyelamatkan diri, meninggalkan teman yang nestapa.
Kisah bangsawan pengecut yang menjaga citra sebagai lelaki heroik ini ada dalam Para Pahlawan, cerita pendek karya sastrawan- kolumnis Malaysia, Karim Raslan. Sosok yang oleh pengamat Nirwan Arsuka bisa dibandingkan dengan Idrus, penulis Indonesia yang melukiskan zaman merdeka dengan gaya realisme dan sarkasme pada 1950-an.
Karim memang bercerita tanpa selubung. Dalam Para Pahlawan, ia membongkar rahasia di ujung cerita: Nazrin dan si bangsawan bertemu tanpa rencana melalui orang ketiga, yakni putri sang bangsawan, pengagum berat ayahnya sendiri. Dalam cerita lainnya, Tetangga Sebelah, ia menulis tentang Datin Sarina. Ia istri bangsawan yang haus kekuasaan dan (nyaris) jatuh cinta pada tetangga barunya yang rupawan. Sampai akhirnya ia menjumpai pujaannya bercinta dengan seorang banci.
Para Pahlawan adalah satu di antara kumpulan cerita pendek Karim Raslan, Pahlawan dan Cerita Lainnya (terjemahan dari Heroes and Other Stories). Antologi yang memuat delapan kisah: Yang Terkasih, Para Pahlawan, Makan Siang Tahun Baru. Di Jalan Kia Peng, Warisan, Puan Gundik, Sara dan Perkawinan, Ayo Ke Timur, dan Tetangga Sebelah.
Pahlawan dan Cerita Lainnya bercerita tentang banyak aspek kehidupan para bangsawan – semuanya menggiring ke satu titik: hipokrisi aristokrat Melayu. Sosok-sosok yang digambarkannya sering bermain golf atau polo di klub, menenteng tas Louis Vuitton sembari tangan kirinya menjepit rokok Dunhill, dan senang membanggakan gelar Datuk dan Datin. Di balik aristokrasi ada kegandrungan akan seks, uang, dan kuasa.
Karim Raslan memang memiliki ciri khas dalam karya-karyanya, tapi sayangnya ia tak begitu populer di Semenanjung Malaysia. “Tulisannya berbahasa Inggris tinggi dan tak dimengerti orang Malaysia kebanyakan,” kata Abdul Razak dari Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Selama ini Karim lebih dikenal sebagai kolumnis. Kumpulan tulisan kolomnya telah dibukukan menjadi Ceritalah: Malaysia in Translation yang menjadi buku laris di Malaysia. Juga Journeys Through Southeast Asia: Ceritalah 2.
“Saya menulis apa yang saya alami, lihat, dan temukan dalam riset. Saya hanya ingin jujur,” kata Karim. Karim Raslan dilahirkan pada 2 Agustus 1963 di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ia memang bercerita di luar arus utama penulis Malaysia. Mungkin pengalamannya tinggal 16 tahun di negara ibunya (Inggris) memberi pengaruh dalam gayanya yang blak-blakan. Ia mengambil pendidikan hukum di Inggris dan menjadi pengacara berlidah setajam kritiknya di harian-harian berbahasa Cina dan Inggris di Malaysia yang rutin ditulisnya.
Sejumlah cerita pendek Karim sekarang bisa dibaca dalam Bahasa Indonesia. Yang sedikit mengganggu para pembacanya di sini adalah singkatan-singkatan Malaysia yang acap kali muncul tanpa keterangan apa pun. (Istiqomatul Hayati)
Sumber: Tempo, 25 September-Oktober 2006.
Menulis Resensi Buku Fiksi
Apakah Anda suka membeli buku-buku fiksi, seperti novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan puisi? Tahukah Anda bahwa buku-buku itu dapat menambah uang saku Anda? Caranya mudah sekali. Anda cukup meresensi buku-buku yang sudah Anda baca dan mengirimnya ke surat kabar atau majalah. Jika resensi dimuat, Anda akan memperoleh honor yang lumayan sehingga dapat menambah uang saku. Buku yang diresensi harus memiliki keunikan, mungkin dari segi pengarangya atau isi buku.
Sebelum Anda meresensi perhatikan hal-hal berikut.
a. Pahamilah isi buku dan informasi tentang penulisnya!
b. Pahamilah kekurangan dan kelemahan buku!
c. Pahamilah manfaat yang diperoleh setelah membaca buku yang Anda resensi!
Berikut adalah langkah penilaian atau pninjauan terhadap sebuah buku.
1. Buku dan Penulis
1. Siapakah tokoh-tokoh utama dalam novel atau kumpulan cerpen/puisi yang Anda baca?
2. Masalah apakah yang dihadapi para tokoh?
3. Bagaimana nasib tokoh-tokoh di akhir cerita?
4. Tahukah kamu karya-karya lain yang dihasilkan penulis?
5. Apa perbedaan buku yang Anda resensi dengan bukubuku lain karya penulis yang sama?
6. Apa yang kamu ketahui tentang penulis?
2. Kelemahan dan Keunggulan
1. Apakah tema yang diangkat penulis menarik minat pembaca?
2. Apakah alur yang digunakan penulis menarik?
3. Apakah penulis memunculkan karakter tokoh yang unik?
4. Apakah kisah yang diangkat penulis berhubungan dengan salah satu sisi kehidupannya sendiri?
5. Apakah bahasa yang digunakan pengarang komunikatif?
6. Apakah nilai-nilai kehidupan yang disampaikan merupakan pandangan baru tentang kehidupan?
3. Manfaat
1. Apakah setelah membaca buku tersebut, Anda termotivasi bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan?
2. Apakah pesan yang disampaikan penulis relevan dengan kehidupan masa kini?
3. Apakah Anda mendapat pelajaran untuk bersikap lebih baik setelah membaca buku tersebut?

2.3 Ungkapan
Ungkapan/idiom adalah satuan bahasa, baik berbentuk kata,frasa, maupun klausa yang maknanya sudah tidak dapat dirunutkembali dari makna denotasi unsur-unsur yang menyusunnya.Perhatikan kalimat-kalimat berikut!a. Orang terkaya itu mempunyai gula-gula yangdisimpannya di luar kota.
b. Si panjang tangan itu sudah memperbaiki tingkahlakunya.
c. Orang itu sedang dicari polisi karena tercatat dalamdaftar hitam.
d. Ibu sedang menanam nona makan sirih.
Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas disebutungkapan atau idiom. Kata gula-gula, panjang tangan, daftar hitam,dan nona makan sirih sudah tidak dapat dikembalikan lagi ke dalammakna denotasinya. Gula-gula berarti wanita piaraan, panjang tanganberarti pencuri, daftar hitam berarti daftar orang yang terlibat dalamkejahatan, dan nona makan sirih merupakan nama sejenis tanaman.
Berdasarkan atas makna unsur-unsur yang membentuknya, idiomdapat dibedakan menjadi 2 jenis, yakni:
a. Idiom penuh, yaitu idiom atau ungkapan yang seluruh unsurpembentuknya tidak dapat dikembalikan kepada makna denotasinya.
Contoh:
1. Gulung tikar berarti bangkrut.
2. Pantat kuning berarti pelit/kikir.
b. Idiom sebagian, yaitu idiom atau ungkapan yang sebagianunsur pembentuknya masih dapat dikembalikan kepada maknadenotasinya.
Contoh:
1. Kabar burung berarti kabar atau berita yang belum tentukebenarannya.
2. Daftar hitam berarti daftar nama orang yang terlibat dalamtindak kejahatan.

Pelatihan
Jodohkanlah KOLOM A dan KOLOM B!
KOLOM B KOLOM B
1. tanggung renteng
2. sapi perahan
3. mencemarkan kaki
4. tuan rumah
5. gulung tikar
6. uang panas
7. menjual petai kosong
8. banting tulang
9. uang hangus a. Dia terpaksa … untuk menghidupi keluarganya yang miskin di desa.
b. Terima kasih, Bapak-bapak telah sudi … ke desa kami yang terpencil.
c. Orang yang sering … nantinya kurang beruntung, sebab semua orang ragu pada apa yang dikatakannya.
d. Pegawai itu diberhentikan secara tidak hormat karena terbukti telah menerima … .
e. … sekitar dua juta rupiah yang mereka dapat, telah mereka habiskan dalam dua hari dan kini mereka menyesalinya.
f. Kita pernah menjadi … ketika Belanda menjajah bangsa kita.
g. Kita pernah menjadi … yang baik dalam tahun kunjungan wisata ini.
h. Perusahaan-perusahaan kecil terpaksa … karena kenaikan BBM.


BAB 3 KEGIATAN

3.1 Menyusun Proposal Kegiatan

Proposal merupakan rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Isi proposal adalah hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan.

Unsur-unsur proposal
1. Nama kegiatan (Judul)
Nama kegiatan/judul yang akan dilaksanakan tercermin dalam judul proposal.
2. Latar belakang
Latar belakang proposal berisi pokok-pokok pemikiran dan alasan perlunya diadakan kegiatan tertentu.
3. Tujuan kegiatan
Penyusunan proposal harus merumuskan tujuan sedemikian rupa agar target yang akan dicapai dan nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh pembaca proposal. Oleh karena itu, tujuan harus dijabarkan supaya tampak manfaatnya.
4. Tema
Tema adalah hal yang mendasari kegiatan tersebut.
5. Sasaran/peserta
Penyusun proposal harus menetapkan secara tegas siapa yang akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
6. Tempat dan waktu kegiatan
Dalam proposal harus dituliskan secara jelas kapan dan di mana kegiatan akan dilaksanakan.
7. Kepanitiaan
Penyelenggara atau susunan panitia harus dicantumkan dalam proposal dan ditulis secara rinci.
8. Rencana anggaran kegiatan
Penulis proposal harus menyusun anggaran biaya yang logis dan realistis, serta memperhatikan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.
9. Penutup
Contoh Proposal
Proposal Festival Band SMA se-Jabotabek 2007
I. Latar belakang
Musik itu indah dan menyenangkan. Banyak orang menyukai musik karena menemukan kepuasan dan kedamaian di dalam musik. Generasi muda khususnya para pelajar SMA adalah sebagian besar dari kelompok masyarakat yang menyukai musik. Musik bagi mereka sudah menjadi identitas khusus yang memiliki kebanggaan tersendiri.
Dalam rangka hari ulang tahun yang ke-25 SMA Negeri 78, OSIS SMA Negeri 78 akan menyelenggarakan festival band tingkat SMA se-Jabotabek. Kegiatan ini diselenggarakan untuk menampung dan menyalurkan bakat serta kemampuan para siswa dalam olah suara yang dipadukan dengan musik.
II. Tujuan kegiatan
1. Menampung dan menyalurkan bakat seni, khususnya di bidang musik bagi siswa dan siswi SMA se-Jabodetabek.
2. Meningkatkan kemampuan para peserta dalam mengapresiasikan musik.
3. Membina kebersamaan para pelajar SMA se-Jabotabek.
III. Tema
“Melalui festival band kita tingkatkan apresiasi musik di kalangan para pelajar SMA se-Jabotabek.“
IV. Peserta dan pendaftaran
Peserta adalah para pelajar SMA Negeri dan Swasta se-Jabotabek. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran yang telah disiapkan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. mengisi formulir pendaftaran seharga Rp 150.000,00 setiap group;
b. setiap sekolah dapat mengirimkan satu group band; dan
c. formulir pendaftaran diserahkan kepada panitia paling lambat tanggal 24 Februari 2007.
V. Tempat pendaftaran
Ruang OSIS SMA 78, Jln. Sejahtera No. 26 Jakarta Pusat. Telp. 021- 465378, Fax.021-123456.
VI. Syarat pendaftaran
Membayar biaya pendaftaran dan menyerahkan formulir yang telah diisi kepada panitia penyelenggara.
VII. Kategori lagu
1. Lagu wajib : I Have A Dream (Westlife)
2. Lagu pilihan :
She All I Ever Had (Ricky Martin); No Matter What (Boyzone); I Want It That Way ( Backstreet Boys); Old Before I Die (Robbie Williams); dan You Needed Me (Boyzone).
VIII. Waktu Pelaksanaan
Technical Meeting
Hari/Tanggal : 27 Februari 2007
Tempat : Aula SMA Negeri 78
Pukul : 10.00
Lomba
Hari/Tanggal : 28 Februari 2007
Tempat : Aula SMA Negeri 78
Pukul : 11.30 sampai selesai
Hadiah
Juara I : Rp 2.500.000,00; tropi; dan piagam
Juara II : Rp 2.000.000,00; tropi; dan piagam
JuaraIII : Rp 1.500.000,00; tropi; dan piagam
IX. Kepanitiaan
Penanggung jawab : Kep Sek SMA Negeri 78
Ketua : Anisa
Wakil ketua : Rino Sutanto
Sekretaris : Marsel L.
Bendahara : Anastasia Widhastuti
Koordinator Acara : Mohammad Adisatya
Konsumsi : Tuti Adhitama
Dokumentasi : Prayitno
Dekorasi : Ragil Wulandari
X. Dewan Juri
1. Andi Supito (pengamat musik) 2. Siti Susanti (penyanyi) 3. Dodo
Pangaribuan (gitaris)
XI. Anggaran
Pemasukan
Peserta 40 x Rp 150.000,00 Rp 6.000.000,00
Subsidi OSIS Rp 3.000.000,00
Sumbangan Depdiknas Rp 1.000.000,00
Sponsor Rp 3.200.000,00
Rp 13.200.000,00
Pengeluaran
Konsumsi Rp 1.700.000,00
Sewa Sound sistem Rp 1.000.000,00
Honor tiga dewan juri Rp 3.000.000,00
Pembelian hadiah Rp 6.000.000,00
Dokumentasi Rp 600.000,00
Dekorasi Rp 600.000,00
Lain-lain Rp 300.000,00
Rp 13.200.000,00
XII. Penutup
Kegiatan ini akan berjalan baik dan lancar berkat dukungan dan bantuan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, 02 Januari 2007
Mengetahui,
Kepala Sekolah, Ketua Panitia,
Drs. Ananta Anisa
TUGAS KELOMPOK
Bentuklah kelompok, beranggotakan 3 sampai 4 siswa!
1. Susunlah sebuah proposal kegiatan lengkap sehubungan dengan rencana kegiatan study tour di sekolah Anda! Rencanakan setiap hal dalam proposal dengan saksama!
2. Bacakan proposal yang sudah dibuat di depan teman-teman Anda!
3. Mintalah teman-teman Anda menanggapi proposal tersebut! Lalu, buat catatan mengenai tanggapan dan penilaian temantemanmu!
4. Perbaiki proposal berdasarkan penilaian dan tanggapan temanteman Anda!

3.2 Menyusun Karya Tulis
Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.Yang termasuk karangan ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian.
3.2.1 Ketentuan Umum
Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yangmenyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Yang termasuk karangan ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian.
Ketentuan umum yang harus diperhatikan dalam pembuatan karangan ilmiah:
1. Kertas yang digunakan untuk mengetik karangan adalah kertas HVS berukuran kuarto (21,5 x 28 cm). Untuk kulitnya, digunakan kertas yang agak tebal.
2. Pengetikan menggunakan huruf tegak dan jelas (misalnya, Times New Roman) dengan ukuran 12.
3. Menggunakan tinta berwarna hitam.
4. Batas-batas pengetikan:
a. pias atas 4 cm;
b. pias bawah 3 cm;
c. pias kiri 4 cm; dan
d. pias kanan 3 cm.

3.2.2 Sistematika Karya Ilmiah
Sistematika karangan ilmiah menggunakan sistematika yang berlaku secara umum, sebagai berikut.

A. Bagian Pembukaan
1. Kulit Luar/Kover dan Halaman Judul
Contoh:
Yang harus dicantumkan pada kulit luar dan halaman judul karangan ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Judul karangan ilmiah lengkap dengan anak judul (jika ada)
b. Keperluan Penyusunan
c. Nama Penyusun
d. Nama Lembaga Pendidikan
e. Nama Kota
f. Tahun Penyusunan
2. Halaman Pengesahan
Dalam halaman ini dicantumkan nama guru pembimbing, kepala sekolah, dan tanggal, bulan, tahun persetujuan.
3. Kata Pengantar
Kata pengantar dibuat untuk memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang penulisan karangan ilmiah. Kata pengantar hendaknya singkat tapi jelas. Yang dicantumkan dalam kata pengantar adalah (1) puji syukur kepada Tuhan, (2) keterangan dalam rangka apa karya dibuat, (3) kesulitan/ hambatan yang dihadapi, (4) ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu tersusunnya karangan ilmiah, (5) harapan penulis, (6) tempat, tanggal, tahun, dan nama penyusun karangan ilmiah.
4. Daftar Tabel
Tajuk Daftar Tabel dituliskan dengan huruf kapital semua dan terletak di tengah.
5. Daftar Grafik, Bagan, atau Skema
Pada dasarnya penulisannya hampir sama seperti penulisan Daftar Tabel.
6. Daftar Singkatan
Penulisan sama dengan penulisan Daftar Tabel, Grafik, Bagan, atau Skema.
B. Bagian inti
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Bagian ini memuat alasan penulis mengambil judul itu dan manfaat praktis yang dapat diambil dari karangan ilmiah tersebut.
Alasan-alasan ini dituangkan dalam paragraf-paragraf yang dimulai dari hal yang bersifat umum sampai yang bersifat khusus.
Misalnya, karangan ilmiah bertema “Tingkat Pencemaran Air di Wilayah Jakarta Barat”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang timbul akan dibahas dalam bagian pembahasan dan ini ada kaitannya dengan latar belakang masalah yang sudah dibahas sebelumnya. Permasalahan ini dirumuskan dalam kalimat-kalimat pertanyaan.
1.3 Tujuan Penulisan
Bagian ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas dan tujuan ini ada kaitannya dengan rumusan masalah dan relevansinya dengan judul. Tujuan boleh lebih dari satu.
1.4 Ruang Lingkup (Pembatasan Masalah)
Ruang lingkup ini menjelaskan pembatasan masalah yang dibahas. Pembatasan masalah hendaknya terinci dan istilahistilah yang berhubungan dirumuskan secara tepat. Rumusan ruang lingkup harus sesuai dengan tujuan pembahasan.
1.5 Landasan Teori/Kerangka Teori
Landasan teori berisi prinsip-prinsip teori yang mempengaruhi dalam pembahasan. Teori ini juga berguna untuk membantu gambaran langkah kerja sehingga membantu penulis dalam membahas masalah yang sedang diteliti.

1.6 Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan/perkiraan yang dirumuskan dan untuk sementara diterima, serta masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data-data otentik yang ada, pada bab-bab berikutnya. Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan sederhana, serta cukup mencakup masalah yang dibahas.
1.7 Sumber Data
Sumber data yang digunakan penulis karangan ilmiah biasanya adalah kepustakaan, tempat kejadian peristiwa (hasil observasi), interview, seminar, diskusi, dan sebagainya.
1.8 Metode dan Teknik
a. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara mencari data bagi suatu penulisan, ada yang secara deduktif dan atau induktif. Mencari data dapat dilakukan dengan cara studi pustaka, penelitian lapangan, wawancara, seminar, diskusi, dan lain sebagainya.

b. Teknik Penelitian
Teknik penelitian yang dapat digunakan ialah teknik wawancara, angket, daftar kuesioner, dan observasi. Semua ini disesuaikan dengan masalah yang dibahas.
1.9 Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan adalah suatu tulisan mengenai isi pokok secara garis besar dari bab I sampai bab terakhir atau kesimpulan dari suatu karangan ilmiah.

2. Bab Analisis/Bab Pembahasan
Bab ini merupakan bagian pokok dari sebuah karangan ilmiah, yaitu masalah-masalah akan dibahas secara terperinci dan sistematis. Jika bab pembahasan cukup besar, penulisan dapat dijadikan dalam
beberapa anak bab.
3. Bab Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan yang telah diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Yang dimaksudkan dengan saran adalah saran penulis tentang metode penelitian lanjutan, penerapan hasil penelitian, atau beberapa saran yang ada relevansinya dengan hambatan yang dialami selama
penelitian.
C. Bagian Penutup
Daftar Pustaka Tajuk daftar pustaka dituliskan dengan huruf kapital semua tanpa diberi tanda baca dan dituliskan di tengah-tengah. Dalam daftar pustaka dicantumkan semua kepustakaan, baik yang dijadikan acuan penyusunan karangan maupun yang dijadikan bahan bacaan, termasuk artikel, makalah, skripsi, disertasi, buku, dan lain-lain. Semua acuan dalam daftar pustaka disusun menurut abjad nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan.
Jadi, daftar pustaka tidak diberi nomor urut. Jika tanpa nama pengarang atau lembaga, yang menjadi dasar urutan adalah judul pustaka.

Kutipan, Daftar Pustaka, dan Catatan Kaki
Penulisan kutipan, daftar pustaka, dan catatan kaki berkaitan erat dengan proses pengambilan data untuk kepentingan penulisan karya ilmiah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan data.
1. Harus mencantumkan sumber aslinya. Hal ini penting karena pengambilan data tanpa mencantumkan sumber aslinya dapat dikategorikan sebagai penjiplakan atau plagiat.
2. Data yang diambil harus sesuai dengan fakta, tidak boleh diubah ataupun direkayasa.
3. Pengambilan data hendaknya diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya, baik dari objektivitas, metode pengumpulan, (jika data diperoleh dari pengamatan, pengujian, atau angket) maupun kewenangan pihak pemberi data.

3.2.3 Kutipan, Daftar Pustaka, dan Catatan Kaki
A. Kutipan
Hal yang perlu diingat adalah sebagai berikut.
a. Kutipan harus sama persis dengan aslinya, baik ejaan, susunan kalimat, dan tanda baca.
b. Kutipan yang panjangnya kurang dari 5 baris diintegrasikan dengan teks, spasi dua, dan dibubuhi tanda kutip.
c. Kutipan yang panjangnya 5 baris atau lebih tidak harus diberi tanda kutip, dipisahkan dari teks utama dengan jarak 2,5 spasi, jarak antarbaris satu spasi, serta seluruh kutipan diketik ke dalam 5—7 ketikan.
d. Bila ada bagian yang dihapus, bagian ini diberi tanda titik-titik tiga buah.
e. Tiap kutipan diberi nomor pada akhir kutipan dan penulisannya setengah spasi ke atas.

B. Daftar Pustaka
Daftar pustaka atau bibliografi adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel, dan bahan-bahan penerbitan lain yang mempunyai pertalian dengan karangan yang telah disusun. Daftar pustaka berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang peneliti/penulis agar hasil tulisannya dapat dipertanggungjawabkan.
Petunjuk umum penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut.
1. Daftar pustaka diletakkan pada bagian akhir tulisan.
2. Daftar pustaka tidak diberi nomor urut.
3. Nama penulis diurutkan menurut abjad setelah nama pengarang dibalik.
4. Tiap sumber bacaan diketik dengan jarak satu spasi.
5. Jarak antarsumber bacaan yang satu dengan yang lainnya dua spasi.

Hal-hal lain yang perlu kita perhatikan dalam penyusunan daftar pustaka adalah sebagai berikut.
1. Nama Pengarang
a. Penulisan nama pengarang dari buku dengan seorang pengarang.
1) Nama keluarga ditulis sebelum nama kecil atau inisial.
2) Jika buku disusun oleh sebuah komisi/lembaga, nama komisi/lembaga dipakai untuk menggantikan nama pengarang.
3) Jika tidak ada nama pengarang, urutan dimulai dari judul buku.
Contoh:
Keraf, Gorys. 1988. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

b. Penulisan nama pengarang dari buku dengan dua atau tiga pengarang.
1) Nama pengarang kedua dan ketiga tidak dibalik. Ketentuan lain sama dengan bagian a.
2) Urutan nama pengarang harus sesuai dengan yang tercantum dalam halaman judul buku dan tidak boleh ada perubahan urutan.
Contoh:
Kridalaksana, Harimurti dan Djoko Kentjono,ed. 1991. Seminar Bahasa Indonesia 1968. Ende-Flores: Nusa Indah.
c. Penulisan nama pengarang dari buku dengan banyak pengarang.
1) Hanya nama pertama yang dicantumkan dengan susunan terbalik.
2) Nama-nama pengarang yang lainnya dituliskan dengan singkatan dkk.
Contoh:
Karso, dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. Bandung: Angkasa. 2. Tahun Terbit
2. Tahun terbit
Tahun terbit ditulis sesudah nama pengarang dipisahkan dengan tanda titik.
3. Judul Buku
Judul buku digarisbawahi atau dicetak miring. Setiap huruf awal kata dalam judul diketik dengan huruf kapital, kecuali kata depan dan konjungsi.
4. Tempat Terbit
Tempat terbit ditulis sesudah judul buku, dipisahkan dengan tanda titik dua.
5. Penerbit
Nama penerbit ditulis sesudah tempat terbit dipisahkan dengan tanda titik dua (:) dan diakhiri dengan titik.
6. Penulisan daftar pustaka dari buku yang terdiri atas dua jilid atau lebih
a. Angka jilid ditempatkan sesudah judul dipisahkan dengan sebuah tanda titik.
b. Tulisan jilid disingkat Jil. atau Jld..
Contoh:
Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jil. 2 . Yogyakarta: Kanisius.
7. Penulisan data pustaka dari sebuah buku terjemahan
a. Nama pengarang asli diurutkan dalam daftar urutan alfabetis.
b. Keterangan penerjemah ditempatkan sesudah judul buku dipisahkan dengan tanda koma.
Contoh:
Multatuli. 1972. Max Havelar, atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda, terj. H.B. Jassin. Jakarta: Jambatan.
8. Data Pustaka dari artikel majalah
a. Judul artikel dan judul majalah diapit oleh tanda petik.
b. Tidak ada tempat publikasi dan penerbit, tapi dicantumkan nomor, tanggal, dan halaman
Contoh:
Solihin, Burhan, dkk. “Selamat Datang di Surga Nirkabel”. Tempo. Edisi 4-10 April 2005, hal 90-91.
9. Artikel dari Harian
Tanda titik dipakai sesudah nama pengarang/penulis, selanjutnya menggunakan tanda koma sebagai pemisah.
Contoh :
Pramudianto. ”Penderita dan Pemulihan Nias”. Dalam Kompas, 2 April 2005, hal 46.

C. Catatan Kaki
Catatan kaki adalah keterangan-keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman karangan yang bersangkutan. Semua kutipan, baik langsung maupun tidak langsung dapat dijelaskan sumbernya dalam sebuah catatan kaki.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat catatan kaki.
1. Hubungan catatan kaki dan teks ditandai dengan nomor penunjukan yang ditempatkan agak ke atas setengah spasi dari teks.
2. Pemberian nomor urut yang berlaku untuk tiap bab atau untuk seluruh karangan.
3. Teknik pembuatan catatan kaki adalah sebagai berikut.
a. Sediakan tempat secukupnya pada kaki halaman tersebut.
b. Sesudah baris terakhir dari teks dalam jarak 3 spasi harus dibuat sebuah garis, mulai dari kiri sepanjang 15 ketikan.
c. Dalam jarak 2 spasi dan garis dalam jarak 5-7 ketikan dari margin kiri diketik nomor penunjukan.
d. Langsung sesudah nomor, setengah ke bawah mulai diketik baris pertama dari catatan kaki.
e. Jarak antarbaris dalam catatan kaki adalah spasi rapat, sedangkan jarak antarcatatan kaki pada halaman yang sama adalah dua spasi.
Unsur-unsur yang ada dalam catatan kaki dan penulisannya adalah sebagai berikut.
1. Pengarang
a. Nama pengarang dicantumkan sesuai urutan biasa, pada penunjukan yang kedua dan selanjutnya cukup dipergunakan nama singkat.
b. Bila terdiri dari dua atau tiga pengarang, semuanya dicantumkan, sedangkan lebih dari 3 orang cukup nama pertama yang dicantumkan. Nama yang lain digantikan dengan singkatan dkk.
c. Penunjukan kepada sebuah kumpulan sama dengan no (a) dan (b) ditambah singkatan ed. (editor) di belakang nama penyunting dan dipisahkan dengan tanda koma.
d. Jika tidak ada pengarang/editor, langsung dimulai dengan judul.

2. Judul
a. Semua judul mengikuti peraturan yang sama dengan daftar pustaka.
b. Sesudah catatan kaki pertama, penyebutan sumber yang sama digantikan dengan Ibid., Op.cit., Loc.cit..
c. Sesudah penunjukan pertama sebuah artikel dalam majalah atau harian, maka selanjutnya cukup dipergunakan judul majalah atau harian tanpa judul artikel.
3. Data Publikasi
a. Tempat dan tahun penerbitan dicantumkan pada referensi pertama dan ditempatkan dalam tanda kurung dan dipisahkan dengan tanda koma, misalnya (Jakarta, 2005).
b. Majalah harus dicantumkan nomor jilid dan nomor halaman, tanggal, bulan dan tahun. Semua keterangan dapat ditempatkan dalam kurung.
c. Data publikasi sebuah harian terdiri dari hari, tanggal, bulan, tahun, dan nomor halaman. Penanggalan tidak ditempatkan dalam kurung.

TUGAS KELOMPOK

3.3 Ringkasan Wawancara
Wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan informasi dengan menanyakan langsung kepada seorang narasumber. Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan disiapkan terlebih dahulu dan diarahkan kepada informasi yang menyangkut topik yang akan dibahas.
Tujuan wawancara adalah memberi fakta, alasan, opini atas sebuah topik tertentu dengan menggunakan kata-kata narasumber sehingga pembaca dapat membuat kesimpulan dari ungkapan narasumber.
Yang harus diperhatikan sebelum wawancara adalah menetapkan tujuannya, menentukan narasumber yang tepat, merumuskan pertanyaan-pertanyaannya, dan membuat kesepakatan waktu dan tempat wawancara dengan narasumber.
Cara Berwawncara
1. Siapkan daftar pertanyaan sebelum wawancara.
2. Ajukan pertanyaan yang umum baru ke hal yang khusus.
4. Gunakan bahasa Indonesia yang efektif dan komunikatif.
5. Hindari pertanyaan yang menyinggung perasaan narasumber.
6. Bersikaplah sopan dan wajar.
7. Bila terjadi penyimpangan, arahkan pembicaraan ke pokok persoalan semula.
Dalam mempergunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, penanya tidak semata-mata tergantung pada pertanyaan yang dipersiapkan itu. Bila ada informasi yang menarik dan perlu diketahui lebih lanjut, maka penanya akan mengajukan pertanyaan baru di luar daftar tersebut.

TUGAS KELOMPOK
1. Bentuklah kelompok beranggotakan 3-4 siswa, kemudian berdiskusilah untuk menentukan:
a. tujuan melakukan wawancara.
b. narasumber yang tepat dan beri alasan memilih narasumber tersebut.
c. jadwal wawancara.
2. Rumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan tuuan wawancara!
3. Lakukanlah wawancara dengan narasumber!
4. Setelah kelompok melakukan wawancara, buatlah laporan laporan hasil wawancara! Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


BAB 4 KESEHATAN
4.1 Menjelaskan Isi Artikel
4.1.1 Membaca Artikel

Bacalah artikel berikut ini!
Sangat Berbahaya Merokok di Mobil

Wellington, Minggu – Para ilmuwan peneliti Selandia Baru mengimbau agar pemerintah mau mengeluarkan peraturan melarang merokok di dalam mobil, karena mengancam kesehatan penumpang lainnya yang tidak merokok, khususnya kanakkanak, demikian dilaporkan oleh media massa setempat.
Pada saat seseorang merokok di dalam mobil dengan jendela terbuka maka udara yang masuk dan berada di dalam mobil tersebut dua kali lipat kadar polutannya. Akibatnya tingkat pencemaran dapat disamakan dengan sebuah kedai minum yang ramai pengunjung yang semuanya merokok. Demikian dikatakan oleh seorang ilmuwan dalam hasil penelitiannya yang dimuat di majalah kedokteran Selandia Baru.
Ilmuwan peneliti dari Universitas Otago mengatakan merokok di dalam mobil sangat berbahaya bagi anak-anak yang organ paruparunya masih tumbuh berkembang. Laporan hasil penelitian mengatakan sejumlah negera bagian Amerika Serikat telah memiliki undang-undang setempat yang melarang merokok di dalam kendaraan. Undang-undang itu sedang digodok dan dipersiapkan untuk segera berlaku di New South Wales, Australia dan Ontario, Kanada.
Peneliti Richard Edward mengatakan dari hasil pemantauannya bersama sejumlah koleganya menunjukkan bahwa tingkat pencemaran udara di dalam mobil sangat tinggi, manakala menghisap rokok duduk di bagian depan. Sebatang rokok akan mengakibatkan semua penumpang menanggung risiko.
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan dan menyarankan bahwa para perokok tidak dapat merokok di dalam mobil. Hal ini dilakukan demi kesehatan dan keselamatan penumpang lainnya yang bukan perokok, terutama anak-anak yang masih rentan,” kata Richards Edwards menekankan. (ANTARA)
Sumber: Kompas, 30 Oktober 2006

4.1.2 Memahami Artikel

Artikel adalah bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa fenomena itu terjadi. Artikel dapat menawarkan wawasan baru, baik berupa teori maupun keterampilan atau alternatif pemecahan masalah.
TUGAS INDIVIDU
1. Pilihlah satu artikel berisi opini dan satu artikel berisi fakta!
2. Mengapa Anda memilih dua artikel tersebut?
3. Datalah pokok-pokok pikiran yang Anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut!
4. Tulislah pendapat Anda sehubungan dengan artikel tersebut, kemudian sampaikan secara lisan di depan kelas!

4.1.3 Membuat Majalah Dinding

Sebagai pelajar, Anda tentu menjadi bagian dari kalanganintelektual.Kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut adalahkegiatan penulisan artikel yang dipublikasikan melalui majalah dindingatau mading. Latihan ini akan sangat berguna untuk mengasah kemampuanAnda dalam mempersiapkan diri masuk kalangan intelektual.
Mengingat pentingnya latihan menulis artikel ini, maka perluadanya rencana untuk membuat majalah dinding.Hal-hal yang perludiperhatikan dalam pembuatan majalah dinding adalah sebagaiberikut.
NO DASAR PENJELASAN
1 Jarak pandang Majalah dinding harus dapat dibaca jelas pada jarak + 2 m.

2 Layout (tata letak)
Tata Letak untuk majalah dinding jangan hanya memperhitungkan segi seni/keindahan, tetapi utamakan kenyamanan dan kejelasan membaca.
3 Ukuran Majalah dinding + berukuran 60 x 80 cm, atau disesuaikan tempat.
4 Isi artikel
Artikel harus bersifat netral atau tidak ada tujuan memihak
siapapun
5 Tema
Setiap majalah dinding yang dibuat harus fokus pada satu tema, misalnya lingkungan, sosial, seni, musik, dan lain-lain.

6 Pembaca
Isi artikel dalam majalah dinding harus disesuaikan dengan calon
pembaca.

7 Bahasa
Agar terbiasa dengan bahasa baku, usahakan setiap tulisan menggunakan bahasa baku yang tetap menarik.

8 Isi mading Opini, fakta, problematika masalah pelajar dan penyelesaiannya, TTS,
pengetahuan baru secara teori atau keterampilan, karikatur, sastra,
pojok (berisi humor, pesan, tulisan singkat), dan lain-lain.

4.2 Membaca dan Menganalisis Kutipan Novel
4.2.1 Kutipan Novel

Bacalah kutipan novel terjemahan yang berjudul Sheila: LukaHati Seorang Gadis Kecil karangan Torey Hayden berikut ini!

Dia Datang!
Dia tiba pada tanggal delapan Januari. Antara waktu saya setuju untuk menerimanya dan pagi hari kedatangannya, saya tidak mendengar apa pun, tidak menerima satu berkas pun, dan tidak mengetahui latar belakangnya sedikit pun. Yang saya tahu hanyalah yang telah saya baca dalam artikel dua paragraf di bawah cerita komik halaman enam satu setengah bulan yang lalu.Namun, saya kira itu tidak jadi soal.Tidak ada yang dapat mempersiapkan saya untuk menerimanya.
Ed Somers membawa gadis kecil itu, memegang erat-erat pergelangan tangannya dan menyeretnya.Tuan Collins juga dating ke paviliun bersama Ed. “Dia akan menjadi gurumu yang baru,” jelas Ed. “Dan ini akan menjadi kelasmu yang baru.”
“Hai, namaku Torey,” saya berkata dengan suara seorang guru yang paling ramah sambil meraih tangannya.Namun, dia tidak menanggapi.Akhirnya saya mengambil alih pergelangan tangan mungil itu dari Ed. “Ini Sarah.Dia yang bertugas menyambut.Dia akan menunjukkan seluruh tempat ini padamu.”
Sarah mengulurkan tangan, tetapi Sheila tetap matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lainnya. “Ayo, Nak.” Sarah menangkap tangannya.
“Namanya Sheila,” kata saya. Namun, Sheila meradang atas sikap bersahabat ini dan menyentakkan tangannya hingga lepas, lalu menarik tubuhnya ke belakang.Dia berbalik untuk lari, tapi untungnya Tuan Collins berdiri di pintu dan Sheila berlari ke arahnya.Saya menangkap sebelah lengannya dan menyeretnya kembali ke dalam kelas.
“Kami pergi dulu,” kata Ed dengan tatapan penuh permintaan maaf. “Kutinggalkan map kumulatifnya untukmu di kantor.”
Kami selalu memulai setiap pagi dengan “diskusi”.Sekolah kami mengharuskan murid-murid mengucapkan sumpah di hadapa bendera dan menyanyikan lagu-lagu kepahlawanan sebelum memulai pelajaran.Saya rasa patriotisme bukanlah topik yang tepat bagi anak-anak yang bahkan tidak mampu mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan dasar mereka; tetapi dewan sekolah menentang siapa pun yang tidak bersedia menunjukkan nasionalisme ini. Ada banyak masalah lain yang harus saya hadapi, yang menurut saya lebih penting daripada sumpah kesetiaan ini.
Maka saya pun berkompromi dan menyelenggarakan diskusi.Anakanak itu semuanya berasal dari keluarga yang begitu kacau dan terganggu sehingga kami membutuhkan sesuatu yang dapat menyatukan kami setiap pagi setelah berpisah.Dan saya menginginkan sesuatu yang dapat mendorong terjadinya komunikasi dan mengembangkan pemahaman verbal.Yang pertama-tama kami lakukan adalah upacara sumpah itu dan saya memanfaatkannya dengan menyuruh salah seorang anak memimpin, yang berarti bahwa dia harus mempelajarinya. Bahkan proses ini sangat berguna karena kami harus mengucapkan kata-kata yang tersusun dengan baik dan mengandung makna. Sesudahnya, kami memulai diskusi dengan sebuah “topik”. Biasanya topik menggali perasaan, misalnya berbicara tentang hal-hal yang membuat orang bahagia; atau topik yang mendorong kami memecahkan masalah, misalnya apa yang akan kami lakukan jika kami melihat seseorang menyakiti dirinya sendiri. Pada awalnya, sayalah yang mengusulkan topik, tetapi setelah bulan pertama atau kedua anak-anak punya usulan sendiri dan saya tinggal memulainya.
Setelah topik, saya memberikan waktu kepada setiap anak untuk menceritakan apa yang terjadi padanya sejak pulang sekolah sehari sebelumnya atau pada hari Jumat. Kedua aspek diskusi pagi ini telah berkembang semakin seru, dan bahkan Susannah ikut serta dengan penuh kesadaran sesekali.Anak-anak semuanya senang bercerita dan saya kesulitan untuk menghentikan aktivitas tersebut.Sesudah itu, saya menjelaskan jadwal hari itu dan kami menutupnya dengan bernyanyi.Saya punya kumpulan lagu-lagu yang bisa kami nyanyikan sambil memperagakannya dengan gerakan, dan saya meminta salah satu anak melakukannya.
3
333
Jadi, pagi ini saya mengumpulkan anak-anak di sekeliling saya.
“Anak-anak, ini Sheila, dan dia akan bergabung dengan kelas kita.”
“Kok bisa?” Peter bertanya dengan curiga.
“Kamu tidak pernah memberi tahu kalau kita akan kedatangananak baru.”
“Ya, aku sudah memberi tahu, Peter.Ingat bagaimana kitalatihan hari Jumat kemarin untuk menunjukkan kepada Sheilabahwa kita gembira dia bergabung dengan kita?Ingat apa yangkita lakukan?”
“Yah, aku enggak suka dia bersama kita,” sahutnya.“Aku lebihsuka kita seperti dulu.”Dia meletakkan kedua tangan di atastelinganya untuk mengusir saya dari dunianya dan mulai bergoyanggoyang.
“Memang perlu waktu untuk membiasakan diri, kukira.Tapikita bisa kok.”Saya menepuk bahu Sheila dan dia menjauhkantubuhnya.“Kini, siapa yang punya topik?”
Setiap anak duduk di sekeliling saya di atas lantai.Tidak adayang berbicara.
“Tidak ada yang punya topik?Nah, kalau begitu, aku yang usul.Menurut kalian bagaimana rasanya kalau kamu jadi anakbaru dan tidak kenal siapa-siapa, atau mungkin kalian ingin masukke sebuah kelompok dan tak seorang pun menginginkan kalian?
Bagaimana rasanya di dalam hati?”
“Tidak enak,” kata Guillermo.“Itu pernah terjadi padaku sekalidan aku merasa tidak enak.”
“Bisa kamu ceritakan pada kami soal itu?” tanya saya.
Tiba-tiba Peter meloncat berdiri.“Dia bau, Bu Guru.”Diamembelakangi Sheila.“Dia bau sekali dan aku tidak ingin dia dudukbersama kita.Dia akan membuatku pusing.”
Sheila memandangnya dengan murka, tetapi tidak berbicaraatau bergerak.Dia menekuk tubuhnya sehingga tampak sepertibuntalan kecil, kedua lengannya memeluk lutut erat-erat.
Sarah berdiri dan bergerak mendekati tempat Peter dudukkembali.“Dia benar-benar bau, Torey.Dia bau seperti pipis.”
Sopan-santun jelas bukan keahlian kami.Saya tidak terkejutmelihat mereka tidak menutup-nutupi perasaan, tetapi sepertibiasa saya merasa khawatir.Mengaburkan persepsi mereka yangbegitu jernih tentang dunia ini merupakan sesuatu yang mustahil.
Untuk setiap langkah maju yang saya ambil untuk mengajarkansopan-santun, saya harus mengambil dua langkah ke belakangdan enam langkah ke samping.“Menurutmu bagaimana rasanyaitu, Peter, jika ada orang mengatakan bahwa kamu bau?”
“Habis, dia bau sekali, sungguh,” Peter menjawab denganpedas.
“Bukan itu yang kutanyakan. Aku tanya bagaimana perasaanmujika ada orang mengatakan itu padamu? “
“Aku tidak ingin membuat orang sekelas terganggu bauku, itujelas.”
“Bukan itu yang kutanyakan.”
“Aku akan merasa sedih,” Tyler menjawab dengan sukarela,sambil berdiri di atas lututnya.Setiap tanda kemarahan atauketidaksetujuan membuat Tyler sangat ketakutan dan mendorongnyabertindak terlalu dewasa untuk usianya yang baru delapantahun, dan bersikap keibuan terhadap orang yang tidak setujudengannya.
“Bagaimana dengan kamu, Sarah?” tanya saya, bagaimanaperasaanmu?“
Sarah menatap jari-jarinya, segan memandang saya.“Akutidak terlalu suka.”
“Tidak, kukira tidak ada di antara kita yang suka. Bagaimanacara yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini?”
“Kamu bisa memberitahunya diam-diam bahwa dia bau,” Williammenawarkan solusi.“Jadi dia tidak malu.”
“Kamu juga bisa mengajarinya supaya tidak bau,” tambahGuillermo.
“Kita semua bisa menutup hidung,” kata Peter.Dia belum begiturela mengakui bahwa perkataannya tidak pantas tadi.
“Itu tidak akan membantu, Peter,” kata William.“Kamu jaditidak bisa bernapas.”
“Bisa saja.Kamu bisa bernapas lewat mulut.”Saya tertawa.“Semuanya, cobalah usulan Peter.Peter, kamujuga.”Semua anak kecuali Sheila menutup hidung mereka danbernapas melalui mulut.Saya mendorongnya untuk mencoba juga,tetapi dengan gigih dia menolak untuk membuka pelukantangannya.Dalam beberapa saat kami semua tertawa, bahkanFreddie dan Max, melihat wajah lucu yang kami tampilkan.Kamisemua, kecuali Sheila.Saya mulai khawatir bahwa dia menganggapini sebagai lelucon untuk menertawakan dirinya dan sayasegera menjelaskan bahwa bukan begitu maksud kami.Diamengabaikan saya, bahkan tidak memandang saya. “Beginilah carakami memecahkan masalah,” kata saya kepadanya.
“Bagaimana perasaanmu melihat ini?” akhirnya saya bertanya.
Terjadi keheningan yang lama, sementara kami menunggu- nunggu.
Anak-anak lain menjadi tidak sabar.
“Apa dia tidak bisa bicara?” tanya Guillermo.
“Aku dulu juga tidak mau bicara, ingat tidak?” kata Sarah.
“Dulu kalau aku marah, aku tidak mau bicara dengan siapa saja.”
Dia memandang ke arah Sheila.“Aku dulu juga tidak mau bicara,Sheila.Jadi, aku tahu bagaimana rasanya.”
“Nah, kukira kita sudah cukup mengganggu Sheila.Sekarang,kita beri saja dia waktu supaya terbiasa dengan kita, ya?”
Kami meneruskan acara diskusi pagi kami dan menyudahinyadengan menyanyikan bersama sama “You Are My Sunshine”.
Freddie bertepuk tangan dengan riang; Guillermo mengarahkandengan tangannya; Peter menyanyi sekeras-kerasnya dan sayamenggerakkan Tyler untuk menari-nari seperti boneka.Namun,Sheila hanya duduk, wajahnya muram, tubuhnya yang kecilteronggok tak bergerak dilalui anak-anak lainnya yang menari.
Setelah diskusi kami berpencar untuk pelajaran matematika.Anton mulai mengarahkan anak-anak lain sementara saya mengajakSheila berkeliling melihat-lihat ruangan. Sesungguhnya, yang sayalakukan bukan mengajaknya, melainkan saya harus mengangkatdan menggendongnya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainsebab dia tidak mau bergerak. Saya bersyukur bahwa saya tidaksedang mengajar remaja.Lalu setelah saya sampai ke tempatyang saya inginkan untuk dilihatnya, dia tidak mau melihat, menutupiwajah dengan kedua tangannya.Namun, saya tetap membawanyaberkeliling karena saya telah bertekad untuk menjadikannyabagian dari kami.Saya menunjukkan tempatnya dancantelan mantelnya.Saya memperkenalkannya pada Charles, siiguana; Benny si ular; dan Onions si kelinci yang suka menggigitkalau kita keterlaluan mengganggunya.Saya menunjukkantumbuh-tumbuhan yang mulai kami tanam sebelum Natal dan yangharus saya tengok semasa liburan untuk disirami, dan cerita-ceritayang kami baca sebelum makan siang setiap hari; dan makananyang kami masak bersama setiap Rabu siang.Saya tunjukkankepadanya akuarium dan mainan-mainan kami.Saya mengangkattubuhnya agar bisa melihat pemandangan dari jendela kami yanghanya satu. Semua ini saya lakukan dengan menyeretnya darisatu tempat ke tempat lain sambil mengoceh seakan-akan diasangat tertarik dengan perkataan saya. Akan tetapi, kalaupun diatertarik, dia tidak menunjukkannya.Dia tetap seperti benda matiyang membebani tangan saya, kaku dan tegang menempel di tubuh saya.Dan dia bau seperti kakus di luar rumah pada sore hari dimusim penghujan.
“Oke, sekarang kita belajar matematika,” saya berkata.“Soalpertama, dua tambah satu.”Saya tunjukkan kepadanya dua balokdan menambahkan balok ketiga.“Berapa itu?Mari kita hitung.”
Dia menggerakkan tangannya, meregangkan tubuhnya yang kakudalam pelukan saya.“Kamu bisa menghitung, Sheila?”Tidak adajawaban.“Ayolah, aku akan membantu.Satu, dua, tiga.Duatambah satu sama dengan tiga.”Saya mengambil pensil. “Di siniya, mari kita tulis.”
Rasanya seperti sedang bertarung. Saya harus berusahadengan susah payah menarik tangannya agar tidak terus menempelke badannya, kemudian melepaskan jari-jarinya yang mengepal,lalu meletakkan pensil di situ. Tiba-tiba jari-jari yang mengepalkencang itu kehilangan kekuatannya dan pensil tersebut meluncurlepas dan jatuh ke lantai.Saat saya membungkuk untuk mengambilpensil, dia telah merebut dua balok dengan tangannya yang bebasdan melemparnya melintasi ruangan. Saya mencengkeram tanganitu, memaksakan kembali pensil tersebut agar dipegangnya danberusaha memeganginya dengan tangan saya sebelum dia bias menjatuhkan pensil itu lagi. Namun, posisi saya tidak menguntungkan;saya kidal dan terpaksa menggunakan tangan itu untukmempertahankan tubuhnya tetap di pangkuan saya.Karena harusmenggunakan tangan kanan untuk melakukan semua gerakan yangsulit ini, saya tidak bisa bergerak cukup cepat.Mungkin saya jugatidak bisa melakukannya sekalipun dengan tangan kiri.Dia benarbenarterampil dalam perang gerilya semacam ini dan pensil itupun jatuh lagi.Setelah satu usaha lagi gagal, saya menyerah.
“Kamu ternyata belum ingin mengerjakan matematika.Oke,kamu boleh duduk.Aku harus memberitahumu bahwa semua anakdi sini mengerjakan tugas mereka dan berusaha sebisanya. Tapikita tidak akan bertengkar soal itu. Kalau kamu ingin duduk, duduksaja.”Saya mengangkatnya ke suatu sudut tempat saya memisahkananak-anak kalau mereka menjadi terlalu bernafsu danperlu memulihkan kendali dirinya, atau kalau mereka bertindakberlebihan, mencoba mencari perhatian.Saya menarik sebuahkursi dan mendudukkan Sheila di situ. Lalu saya kembali padaanak-anak lain.
Kegiatan rutin pagi kami berjalan seperti biasa.Sheila tidakmau ikut apa-apa.Begitu duduk di kursi kayu kecil itu, dia tidakmau bergerak, dan malah menarik diri dengan menekuk lututnyadi bawah dagu serta melingkarkan kedua lengan memeluknya.
Dia bangkit dari kursinya sekali untuk pergi ke kamar mandi, tetapikemudian kembali ke tempat duduknya dan kembali pada posisisebelumnya. Bahkan pada saat istirahat dia tetap duduk, hanyakali ini di atas semen yang dingin. Saya belum pernah melihatanak yang sanggup tidak bergerak begitu lama.Namun, matanyaterus mengikuti saya ke mana pun saya pergi.Pandangantermangu, marah, dan sedih itu tidak pernah melepaskan wajahsaya.
Saat makan siang tiba, Anton membantu anak-anak bersiapuntuk pergi dari paviliun ke kafetaria.Sheila dimasukkan ke dalambarisan itu, tetapi saya mendatangi dan mengambilnya, menarikpergelangan tangannya yang kurus dan mengeluarkannya dari barisan. Kami menunggu sampai semua anak lain pergi. Saya
menunduk menatapnya dan dia mendongak menatap saya. Sayamerasa bahwa untuk sesaat saya melihat suatu emosi selainkebencian memancar dari mata itu, sesuatu yang tidak menunjukkankemarahan.Ketakutan?
“Ayo ke sini.”Saya menariknya ke bangku dan menyuruhnyaduduk di kursi seberang saya.“Ada yang perlu diluruskan di antarakita.”
Dia menatap saya dengan marah, bahunya yang mungilterangkat di balik bajunya yang sudah usang.
“Tidak banyak peraturan di ruangan ini.Sebenarnya hanyaada dua, kecuali jika kita perlu membuat peraturan khusus untukwaktu yang khusus pula.Tapi secara umum hanya ada dua.Satu,kamu tidak boleh menyakiti siapa pun di sini.Tidak seorang pun.
Tidak juga dirimu sendiri.Dua, kamu harus berusaha sebisamuuntuk mengerjakan tugasmu.Itulah aturan yang kukira belum kamupatuhi sekarang.”
Dia menunduk sedikit, tetapi matanya tetap menatap saya.
Kedua kakinya naik dan sekali lagi dia mulai memeluk lutut danmenarik dirinya.
“Kamu tahu, salah satu tugas yang harus kamu lakukan disini adalah berbicara.Aku tahu itu sulit jika kamu tidak terbiasamelakukannya.Tapi di sini kamu harus berbicara dan itu merupakanbagian dari usahamu.Yang pertama selalu yang paling sulit, dankadang kadang bisa membuat kamu menangis.Nah, kamu bolehmenangis di sini.Tapi kamu harus bicara. Dan cepat atau lambatkamu akan bicara. Akan jauh lebih baik jika kamu melakukannyalebih cepat.”Saya memandangnya, berusaha mengimbangitatapannya yang tak kenal takut.“Sudah jelas?”
Wajahnya menjadi gelap karena marah. Saya takut akan apayang mungkin terjadi kalau seluruh kebencian itu lepas, tetapisaya berusaha untuk menghilangkan ketakutan itu, dan tidakmembiarkannya tampak di mata saya. Dia pandai membacapancaran mata.
Saya selalu merasa yakin untuk mengemukakan harapanharapansaya terhadap anak-anak.Beberapa rekan saya meragukansikap saya yang terlalu langsung dengan anak-anak,mengingat kelemahan ego mereka.Saya tidak setuju.Meskipunmereka semua jelas mengalami kehidupan yang menyedihkan danharga diri mereka terinjak-injak, tak seorang pun dari merekayang lemah.Bahkan sebaliknya.Kenyataan bahwa mereka telahbertahan sekian lama setelah mengalami segala kesulitan itumerupakan bukti kekuatan mereka. Namun, mereka semuamenjalani hidup yang kacau dan menularkan kekacauan itu kepadaorang lain melalui sikap mereka yang mengganggu. Saya merasatidak berhak menambah kekacauan itu dengan membiarkanmereka menerka-nerka tentang apa yang saya harapkan darimereka. Saya percaya bahwa menetapkan struktur merupakanmetode yang bermanfaat dan produktif bagi semua anak, sebabhal itu menghapuskan kekaburan hubungan kami.Jelas-jelasmereka menunjukkan bahwa mereka tidak mampu mengatasi keterbatasanmereka sendiri tanpa bantuan, sebab, kalau tidakmereka tidak mungkin ikut kelas saya. Begitu tiba waktunya mereka mampu, saya akan memulai proses pemindahan kekuatan itukepada mereka. Namun, sejak semula saya ingin tidak adakeraguan tentang apa yang saya harapkan dari mereka.
Maka Sheila dan saya duduk membisu sementara dia mencernainformasi ini.Saya tidak cukup tahan untuk dapat mengalahkantatapannya dan saya pun tidak merasa perlu melakukanitu.Setelah beberapa saat saya bangkit dari kursi dan melangkahpergi untuk mengumpulkan kertas-kertas matematika dari keranjangkoreksi.
“Kamu enggak bisa paksa aku bicara,” katanya.
Saya terus mencari-cari di antara kertas-kertas itu untuk menemukanspidol.Untuk menjadi guru yang baik, kita harus tahukapan waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukansesuatu.Timing sangat penting.
“Aku bilang kamu enggak bisa paksa aku bicara.Enggakmungkin kau bisa paksa aku bicara.”
Saya memandangnya.
“Kamu enggak bisa paksa aku.”
“Tidak, memang tidak.”Saya tersenyum.“Tapi kamu akanbicara.Itu bagian dari tugasmu di sini.”
“Aku enggak suka sama kamu.”
“Kamu tidak harus suka.”
“Aku benci kamu.”
Saya tidak menjawab.Itu adalah salah satu pernyataan yangsaya rasa sebaiknya tidak dijawab. Maka saya terus mencari spidol,sambil bertanya-tanya siapa yang akan menyerah kali ini.
“Kamu enggak bisa paksa aku berbuat apa-apa di sini.Kamuenggak bisa paksa aku bicara.”
“Mungkin tidak.”Saya menjatuhkan kertas-kertas itu kembalike dalam keranjang dan mendatanginya.“Kita pergi makan siangsekarang?”Saya mengulurkan tangan kepadanya.Sebagiankemarahan itu telah menghilang, digantikan oleh emosi yang tidakbegitu mudah dibaca.Lalu tanpa disuruh-suruh lagi dia turun darikursi dan berjalan bersama saya, dengan hati-hati menghindaragar tidak bersentuhan dengan saya.
Sumber: Novel Sheila: Luka Seorang Gadis Kecil, 2004dengan perbaikan
TUGAS INDIVIDU
Setelah Anda membaca kutipan novel Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil, kerjakan soal berikut ini!
d. Jelaskan latar dalam kutipan kedua novel di atas!
e. Jelaskan karakter pelakunya!
f. Adakah gambaran tentang keadaan masyarakat dan budaya tertentu dalam kutipan kedua novel di atas, jelaskan dan sertai kutipan kalimat pendukungnya!
g. Sebutkan lima pesan yang dapat Anda petik kutipan tersebut!
h. Ceritakan kembali secara singkat isi kutipan novel tersebut!

4.2.2 Analisis Novel

Untuk benar-benar dapat memahami sebuah karya sastra, kitaperlu membaca tidak hanya sekali, tetapi Ladang lebih dari dua kali.Akan lebih membantu daya pemahaman kita terhadap hasil karyanyakalau kita telah mengenal biografi pengarangnya.
Untuk menganalisis sebuah novel, kita perlu memperhatikan hal-halberikut ini.
Unsur-unsur karya sastra

Unsur intrinsik
Tokoh
Perwatakan
Plot
Tema
Sudut pandang
Amanat
Latar
Gaya bahasa
Unsur Ekstrinsik

Biografi pengarang
Kondisi Sosial
Politik
Filsafat
Dsb

BAB 5 KETERTIBAN
5.1 Sambutan/Khotbah
Anda tentu pernah mendengar sambutan yangdisampaikan oleh seseorang, baik langsung maupuntidak langsung.Umumnya sambutan disampaikan sebagaipengantar atau pembuka suatu acara.Isi sambutanadalah hal pokok acara.
5.1.1 Mendengarkan dan Mencatat Pokok-pokok Sambutan
Berikut ini adalah contoh sambutan yangdisampaikan Kepala Sekolah di hadapan guru danorang tua murid.Ikutilah kegiatan berikut ini!
1. Tutuplah bukumu dan siapkan alat tulis!
2. Dengarkan sambutan yang akan dibacakan salah seorang temanmuatau gurumu! Jika rekaman tersedia, dengarkan melaluirekaman.
3. Sambil mendengarkan, catatlah pokok-pokok sambutan yangAnda anggap penting!

Assalamualaikum wr.wb., salam sejahtera.
Yang terhormat Bapak/Ibu wali murid dan Bapak/Ibu Guru.
Syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Tuhan.Berkatrahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul hari ini di sini dalamrangka pertemuan orang tua, guru, dan kepala sekolah.
Hadirin yang berbahagia, adapun maksud diadakannya pertemuanini untuk menyampaikan kepada orang tua murid dan gurutentang masalah yang sering muncul belakangan ini, yaitu perkelahianantarpelajar.Akhir-akhir ini, sering terjadi perkelahianpelajar yang menimbulkan korban.Ada yang luka-luka, dirawat,bahkan meninggal.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati, sebagai pencegahanagar peristiwa yang tidak kita inginkan itu tidak terjadi dilingkungan sekolah, marilah kita selaku orang tua, guru, dan kepalasekolah bersama-sama membina, mengawasi, dan membimbinganak kita secara baik sehingga mereka menjadi anak yang berakhlakdan mau menjauhi perbuatan yang tidak terpuji, antiterhadap tindakan brutal dan kekerasan.
Perlu Ibu-ibu dan Bapak-bapak ketahui, perkelahian yang seringterjadi ini membuat anak-anak kita tidak nyaman, was-was,dan takut sewaktu berangkat dan pulang sekolah. Dan yang lebihmengkhawatirkan, justru yang kena sasaran adalah pelajar yanglugu, baik, dan tidak terlibat perkelahian.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati, kami sebagai kepalasekolah dan guru sudah berkali-kali menasihati, baik di kelas maupunpada saat upacara bendera hari Senin agar mereka berhati-hati danmenghindari perkelahian.Karena sering, mereka sudah sangat hafaldengan nasihat itu, bahkan sudah bosan.Entah mereka dengarkan,entah tidak mereka dengarkan lagi, kami tidak tahu.
Kami pun sudah menetapkan sanksi-sanksi, tidak hanya berupasurat peringatan, tetapi juga berupa hukuman, dikeluarkan bagiyang terlibat perkelahian. Namun, masih ada juga siswa yangterpancing untuk terlibat perkelahian.Inilah yang sangat mengkhawatirkankami jika dicegah dan diantisipasi.
Jadi, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, marilah kita tidak henti-hentinyamemberikan nasihat kepada anak kita.Kami serahkan pengawasandan bimbingan di luar sekolah kepada orang tua. Adapundi sekolah, kami pun berusaha sedemikian rupa sehingga apa yangkita khawatirkan tidak terjadi. Anak Ibu dan Bapak adalah anakkami juga.
Harapan kita hanya satu, yaitu mendidik anak menjadi orangyang berpendidikan, berprestasi, dan berbudi pekerti luhur.
Kami akhiri sambutan ini. Atas perhatian dan kerja sama Ibudan Bapak, kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr.wb.
Kepala Sekolah
TUGAS INDIVIDU
1. Ubahlah catatan yang telahAnda buat saat mendengarkansambutan menjadisebuah paragraf pendeksebagai ringkasan sambutan!
2. Bacakan ringkasan itu agarmendapat komentar dariteman-teman Anda!

5.2 Kalimat Baku dan Tidak Baku
Perhatikan contoh berikut!
Kalimat tidak baku:
1. Kami punya nenek sedang sakit.
2. Setiap hari Senen kami mengikuti upacara.
3. Maaf, saya terlambat karena jalanan macet.
4. Ini hari saya akan pergi.
Kalimat baku:
1. Nenek kami sedang sakit.
2. Setiap hari Senin kami mengikuti upacara.
3. Maaf, saya terlambat karena lalu lintas macet.
4. Hari ini saya akan pergi.
Berdasarkan contoh kalimat di atas, dapatkah Anda menjelaskanhal apa saja yang menyebabkan sebuah kalimat menjadi tidak baku?Diskusikan dengan guru dan teman-teman Anda!
Yang dimaksud dengan kata baku adalah kata-kata yang sesuaidengan pedoman atau kaidah yang ditentukan (standardisasi). Dalampemakaian, kita sering menjumpai kata-kata yang tidak baku. Kata-katayang tidak baku tersebut tidak sesuai dengan pedoman ataukaidah yang ditentukan. Kata risiko, misalnya, sering ditulis resikoatau kata universal ditulis universil. Bila kata-kata tersebut digunakandalam kalimat, kalimat itu pun menjadi kalimat tidak baku.
Ketidakbakuan bukan saja disebabkan oleh penulisan yang salah,melainkan juga karena pengucapan yang salah, pembentukan yangtidak benar atau penyusunan kalimat yang tidak tepat.Bahasa baku digunakan dalam situasi resmi, misalnya dalampemerintahan, pendidikan dan pengajaran, penulisan ilmiah, perundang-undangan, atau kegiatan diskusi ilmiah.

TUGAS INDIVIDU
Perbaiki kalimat-kalimatyang tidak baku di bawahini sehingga menjadi kalimatyang baku!
a. Rumahnya temanku ada jauhdari sini.
b. Tanpa berkata sepatah kata punia ngeloyor pergi.
c. Ia suka datang ke rumah hamper tiga hari sekali.
d. Untuk itu waktu dan tempatkami persilakan.
e. Ia datang di malam hari.

5.3 Surat Kuasa

Perhatikan contoh surat kuasa berikut ini!
PT PANJI UTAMA
Gedung Nusantara-Lantai 4,
Jalan Sudiro Husodo No. 12, Jakarta 10230

SURAT KUASA
No.: 021/KS/Dir/IV/07
Melalui surat ini, saya:
Suharto, S.E.
Direktur Administrasi PT Panji Utama
Yang bertindak untuk dan atas nama PT Panji Utama, memberi
kuasa kepada:
Budi Utomo, S.H.
Kepala Biro Administrasi PT Panji Utama
Untuk dan atas nama Direksi PT Panji Utama
1. menandatangani akta pelepasan hak jual, pengurusan hakguna bangunan atas sebidang tanah beserta bangunan diatasnya di Jalan H. Arifin No. 2, Blora; dan
2. menghadap notaris atau pejabat lainnya untuk pembuatansurat-surat tanah tersebut.
Demikian surat kuasa ini dibuat agar dapat dipergunakansebagaimana mestinya.

Jakarta, 21 April 2007
Penerima kuasa, Pemberi kuasa,
Susanto Utomo, S.H. Suharto,S.E.
Surat kuasa adalah surat yang berisi pelimpahanwewenang dari perseorangan atau pejabat kepadaorang atau pejabat lain sehingga pihak yang diberiwewenang dapat bertindak mewakili pihak yangmemberi wewenang kekuasaan.Dalam surat kuasa ada dua pihak yangberkepentingan, yaitu pihak yang memberi kuasa danpihak yang diberi kuasa. Pihak yang memberi kuasaharus menyebutkan jenis pelimpahan kekuasaan,atas nama pribadi atau organisasi.
Surat kuasa yang dibuat atas nama pribaditergolong sebagai surat pribadi dan surat kuasa yangdibuat untuk mewakili seorang pejabat di dalamsuatu organisasi termasuk surat organisasi.
Surat kuasa di dalam suatu organisasi dapatdibedakan menjadi dua dalam pemakaiannya, yaituuntuk keperluan intern dan ekstern organisasi.Surat kuasa untuk keperluan eksternorganisasi harus disertai data pribadi pihak yangmemberi kuasa, data pribadi pihak yang diberi kuasa,dan bentuk kekuasaan yang diberikan lengkap dengan
batas-batasnya.
Bila menyangkut aspek hukum atau uangyang bernilai mulai lima ratus ribu rupiah, surat kuasaharus dibubuhi meterai. Besarnya meteraidisesuaikan dengan peraturan yang berlaku pada saatpembuatan surat kuasa. Letak meterai adalah padaposisi pemberi kuasa. Bila ditulis di atas kertas segel,surat kuasa tidak perlu diberi meterai.
Surat kuasa sah jika ditandatangani keduabelah pihak. Pertama-tama oleh pihak yang diberikuasa, kemudian pihak yang memberi kuasa.

BAB 6 DRAMA I
6.1 Mengidentifikasi Pementasan Drama

Dengarkan dan identifikasilahdrama yang dipentaskan teman-temanmu itu! Hal-hal yang diidentifikasi adalah konflik, dialog, peristiwa, tokoh, danwatak tokoh.
Konflik adalah ketegangan di dalamcerita rekaan atau drama; pertentanganantara dua kekuatan.Pertentangan ini dapatterjadi dalam diri satu tokoh,antara dua tokoh, antara tokohdan masyarakat lingkungannya,antara tokoh dan alam, sertaantara tokoh dan Tuhan. Istilahlain: tikaian.
Dialog adalah (1) percakapan didalam karya sastra antara duatokoh atau lebih; (2) karanganyang menggambarkan percakapandi antara dua tokoh ataulebih. Di dalam dialog tercerminpertukaran pikiran atau pendapat;
dipakai di dalam drama, novel,cerita pendek, dan puisinaratif untuk mengungkapkanwatak tokoh dan melancarkanlakuan.
Peristiwa adalah kejadian yangpenting, khususnya yang berhubungandengan atau merupakanperistiwa yang mendahuluinya.
Tokoh adalah individu rekaan yangmengalami peristiwa atau berkelakuandi dalam berbagai peristiwadalam cerita.
Watak (Character) adalah sifat danciri yang terdapat pada tokoh,kualitas nalar dan jiwanya yangmembedakannya dari tokoh lain
(Panuti Sudjiman, 1990)

BABAK PERTAMA
ADEGAN I
Sebuah balairung di istana Raja Lear. Masuk Kent, Gloucester,dan Edmund.
KENT
Kusangka baginda lebih menyayangi Adipati Albany dari padaAdipati Cornwall.
GLOUCESTER
Kami selalu beranggapan begitu; tetapi kini pada pembagiankerajaan, tak kentara tumenggung yang mana paling dihargaibaginda; sebab semuanya adil benar timbangannya, hinggadengan secermat-cermatnya pun kedua pihak tak sanggupmemilih bagian masing-masing.
KENT
Ini putra tuan, bukan?
GLOUCESTER
Asuhannya menjadi tanggunganku.Sering aku malu mengakuidia, namun kini menjadi biasa.
KENT
Saya tak mengerti.
GLOUCESTER
Ibu si anak lebih mengerti tuan dan itu menyebabkan diaberbadan dua. la mempunyai anak untuk ayunannya, sebelumia punya suami untuk ranjangnya. Tuan bisa menciumkesalahannya.
KENT
Tak kuharap kesalahan itu batal, sebab kulihat buahnya baik.
GLOUCESTER
Aku juga punya anak lelaki yang sah, tuan, kira-kira setahunlebih tua dari ini, tak lebih kuhargai. Sesungguhpun anak inidatangnya di dunia agak kurang ajar, sebelum dipanggil,namun ibunya cantik; ia terjadi karena main-main. Dan haramjadah harus diakui juga. Kau kenal tuan yang terhormat ini,Edmund?
EDMUND
Tidak, ayah.
GLOUCESTER
Ini Tumenggung Kent; mulai sekarang ingatlah pada beliausebagai kawanku yang kujunjung tinggi.
EDMUND
Hormat saya, tuan
KENT
Aku senang denganmu, kuharap kita dapat berkenalan lebihdekat.
Sumber: Raja Lear karya Wiliam Shakespeare, terj.
Trisno Sumarjo dari judul asli King Lear

6.2 Menanggapi Pementasan Drama

Unsur dalam drama tidak jauh berbeda dengan unsur dalamcerpen, novel, maupun roman. Dialog menjadi ciri formal dramayang membedakannya dengan bentuk prosa yang lain. Selain dialog,terdapat plot/alur, karakter/tokoh, dan latar/setting. Apabiladrama sebagai naskah itu dipentaskan, maka harus dilengkapi denganunsur: gerak, tata busana, tata rias, tata panggung, tata bunyi, dantata sinar. Dialog dalam drama memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Melukiskan watak tokoh-tokoh dalam cerita.
b. Mengembangkan plot dan menjelaskan isi cerita kepada pembacaatau penonton.
c. Memberikan isyarat peristiwa yang mendahuluinya.
d. Memberikan isyarat peristiwa yang akan datang.
e. Memberikan komentar terhadap peristiwa yang sedang terjadidalam drama tersebut.

6.2.1 Menghayati Watak Tokoh
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan pemaindrama adalah:
f. kemampuan calon pemain,
g. kesesuaian postur tubuh, tipe gerak, dan suara yang dimiliki calonpemain dengan tokoh yang akan dimainkan,
h. kesanggupan calon pemain untuk memerankan tokoh dalamdrama.
Jika ketiga hal di atas dapat dipenuhi oleh calon pemain, akanmempermudah dalam penghayatan watak tokoh dalam drama yangakan dipentaskan. Hal lain yang harus diperhatikan, saat Anda akanmenghayati watak tokoh dalam drama yang akan diperankan adalahsebagai berikut:
1. Pahamilah ciri-ciri fisik tokoh yang diperankan, seperti jenis kelamin,umur, penampilan fisik, dan kondisi kesehatan tokoh.
2. Pahamilah ciri-ciri sosial tokoh yang diperankan, seperti pekerjaan,kelas sosial, latar belakang keluarga, dan status tokohyang akan diperankan.
3. Pahamilah ciri-ciri nonfisik tokoh, seperti pandangan hidup dankeadaan batin.
4. Pahamilah ciri-ciri perilaku tokoh dalam menghadapi dan menyelesaikansebuah konflik.
6.2.2 Pementasan Drama
Hal-hal yang dipersiapkan dalam pementasan drama adalah:
1. Sutradara (pemimpin pementasan),
2. Penulis naskah (penulis cerita),
3. Penata artistik (pengatur setting, lighting, dan properti),
4. Penata musik (pengatur musik, pengiring, dan efek-efek suara),
5. Penata kostum (perancang pakaian sesuai dengan peran),
6. Penata rias (perancang rias sesuai dengan peran),
7. Penata tari/koreografer (penata gerak dalam pementasan),
8. Pemain (orang yang memerankan tokoh),

BAB 7 PENDIDIKAN

7.1. Membaca Cepat

Membaca cepat atau skimming adalah salah satu teknik membaca (membaca diam) dengan proses melihat, memperhatikan, melacak materi (selama 1 menit), dan mencari dan mendapat informasi. Sebelum melakukan praktik membaca cepat, lakukan latihan gerak mata.
1. Melatih Gerak Mata
Ikutilah petunjuk berikut ini!
a. Tatap kata kunci yang terdapat di lajur kiri sekejap.
b. Gerakkan mata ke kanan dengan cepat, temukan kata kuncinya, segera coret.
c. Jika Anda telah tiba pada kata paling kanan, segera meluncur ke baris berikutnya. Jangan lakukan regresi (mundur)!
d. Waktu Anda 25 detik.
a. ampere ampar ember ampere bemper lemper
b. kompresor kompres kompor komputer kompresor komposer
c. kondensator kondensor kondensator konduktor kompresor kondektur
d. konduktor kondensor konduktor kondensor kondensator komputer
e. kumparan kumpulan kembaran kupasan kumparan lebaran
f. lilitan buritan cililitan lliput lilin lilitan
g. listrik matriks grafiks batik butik listrik
h. resistor resistor transistor isolator karburator kompresor
i. tahanan tawanan kawanan tahanan tanaman tarian
j. tegangan tegang gantungan tendangan tegangan tangan
k. trafo trafik tragis tragus traksi trafo
l. transmisi translasi transmisi transformasi transplantasi translokasi
m. transistor transit transisi transitif transisitor transliterasi
n. vulkanisir vulkanologi vulkanisir vulkanis vulkanisasi vulkanolog

2. Mengukur Kecepatan Membaca
Kecepatan membaca dapat diukur dengan rumus berikut ini!
Jumlah kata yang dibaca
= × 60
Jumlah detik untuk membaca
Kecepatan membaca
Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dipergunakan cara berikut:
1. hitunglah jumlah kata yang terdapat dalam satu garis penuh.
2. hitunglah jumlah baris pada tiap kolom/halaman yang bersangkutan.
3. hasil perkalian antara jumlah kata dan jumlah baris adalah jumlah kata yang terdapat dalam kolom atau halaman yang bersangkutan. Jika bacaan itu terdiri dari beberapa halaman, jumlah kata ialah hasil kali dari jumlah kata tiap baris, jumlah baris, dan jumlah halaman.
Misalnya jumlah kata yang dibaca 1.600 kata dalam waktu 3 menit 20 detik (200 detik), maka kecepatan membaca adalah:
1600
× 60 = 480 kpm (kata per menit)
200
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kecepatan membaca.
1. Jangan mengeluarkan suara ketika membaca!
2. Jangan gerakkan bibir saat membaca!
3. Jangan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan saat membaca!
4. Jangan menggunakan jari untuk menunjuk teks saat membaca!
5. Jangan lakukan regresi saat membaca!
6. Jangan melafalkan kata demi kata, meskipun membaca dalam hati!

3. Praktik Membaca Cepat
Ikutilah petunjuk berikut ini!
a. Siapkan jam atau stopwatch!
b. Bacalah dengan cepat teks di bawah ini yang panjangnya sekitar 700 kata!
c. Jangan lupa catat waktu mulai membaca!

Sebuah Keluarga untuk Si Kecil
Tawa dan celoteh anak-anak terdengar dari balik dinding.Kegaduhan itu tak mengusik 15 perempuan yang sedang berdiskusi di dalam kelas.Mereka asyik bertukar pengalaman dan mengasah teori mengenai pola-pola pengasuhan anak.Dua pekan silam, 15 wanita itu datang jauh-jauh ke Lembang, Jawa Barat, meninggalkan rumahnya di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan.Mereka adalah calon ibu asuh yang sedang menjalani pelatihan di SOS Kinderdorf, yang lebih dikenal sebagai SOS Desa Taruna Lembang.
Motif mereka seragam. Ida Riyani, 25 tahun, perempuan asal Banda Aceh itu, bergabung dengan SOS Kinderdorf karena ingin membantu anak-anak di kotanya yang kehilangan orang tua akibat bencana tsunami. Ia tahu SOS Kinderdorf dari siaran radio. Kendati sempat kaget setelah mengetahui ada larangan menikah selama menjadi ibu asuh, Ida tetap meneruskan langkahnya.
“Menikah juga ujung-ujungnya mempunyai anak.Di sini tidak perlu menikah tapi sudah punya anak.Sama saja.”
Peserta lain adalah Rosamaeda Purba, 42 tahun. Hati janda beranak dua itu terpincut SOS Kinderdorf karena lembaga yang kegiatannya sekilas mirip panti asuhan itu melarang anak-anak
asuhnya diadopsi. “Saya tertarik metode mendidik anak di sini dengan pendekatan sebuah keluarga,” ujar perempuan yang tadinya berdagang baju di Medan itu.
Mereka semua akan menjalani pendidikan di Lembang selama tiga bulan. Sebuah korting besar dari masa pelatihan yang lazimnya selama dua tahun, mulai dari proses wawancara, tes, pembekalan teori, dan magang menjadi ibu asuh. “Ada pengecualian,” ata pimpinan SOS Desa Taruna Lembang, Sutrisno Setiawan.
Para peserta pelatihan itu diterima menjadi ibu asuh di perkampungan SOS Desa Taruna, yang sedang dibangun di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Mereka akan mengasuh anak-anak korban gempa dan tsunami di Aceh dan Nias hampir dua tahun lalu.
Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah. Mereka magang dan melakukan pekerjaan yang sama seperti ibu asuh di rumah-rumah itu. Sebagai selingan, selama tiga jam setiap hari mereka mendapat pembekalan teori mengenai pola pengasuhan anak dari pengelola desa.
***
4. Pemahaman Teks
Tulislah huruf S (sesuai) jika pernyataan berikut sesuai dengan isi teks, dan TS jikasenaliknya!
1. Ida Riyani mengetahui informasi tentang SOS Kinderdorf dari temannya.
2. Salah satu syarat menjadi pengasuh di SOS Kinderdorf adalah larangan menikah selama menjadi ibu asuh.
3. Aktivitas SOS Kinderdorf mirip panti asuhan, tetapi melarang anak-anak asuhnya diadopsi.
4. SOS Desa Taruna Lembang dipimpin oleh Surtisno Setiawan.
5. Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah.

Uji Kompetensi

Membaca cepat dan menemukan ide pokok.
1. Setelah mempraktikkan membaca cepat, hitunglah kecepatan membaca Anda menggunakan rumus!
2. Temukan ide pokok dari teks yang dibaca!
3. Berlatihlah membaca cepat menggunakan teks yang lain!

7.2. Biografi

Bacalah Biografi berikut ini!
Archimedes
Archimedes adalah ilmuwan terbesar sebelum Newton.Iaadalahahlimatematika Yunani (terutama geometri), ahli fisika (terutama mekanika, statika, dan hidro statika), ahli optika, ahli astronomi, warga negara Sisilia, pengarang, dan penemu. Ia mendapat julukan bapak IPA eksperimental kerena mendasarkan penemuannya pada eksperimen. Kebenaran penemuan-penemuannya telah ia buktikan dengan eksperimen.
Archimedes menemukan hukum tuas (pengungkit) dan katrol (derek), hukum Archimedes, ulir Archimedes, spiral Archimedes (bukan spiral KB), kaca pembakar, pelempar batu karang, model orbit bintang, cara mengukur lingkaran, cara menghitung jumlah pasir di seluruh angkasa dan mencantumkannya dalam bilangan. Ia mengarang 20 jilid buku, antara lain berjudul Tentang Elips dan Silinder, Cara Mengukur Lingkaran, Penghitung Pasir, Tentang Benda Terapung, Cara Membuat Elips, Tentang Pusat Gaya Berat, dan sebagainya.
Archimedes lahir di kota Sirakusa di Pulau Sisilia, sebelah selatan italia, pada tahun 287 SM. Ia belajar di kota Alexandria, Mesir. Kemudian ia kembali ke Mesir. Ayahnya ahli bintang. Namanya Phidias. Pada waktu itu yang jadi raja di Sirakusa adalah Hieron II, sahabat Archimedes.Pada suatu hari Hieron II menyuruh seorang pandai emas membuat mahkota.Hieron merasa bahwa pandai besi emas itu curang.Mahkota itu tidak terbuat dari emas murni tapi dari campuran emas dan perak.Maka Hieron menyuruh Archimedes membuktikan kecurangan pandai emas itu.
Berhari-hari Archimedes berpikir keras.Ia tidak tahu caramembuktikan kecurangan pandai besi. Waktu itu belum ada alat elektronik yang dapat mendeteksi apakah sebuah benda terbuat dari emas murni atau emas campuran. Ketika kepala Archimedes terasa panas karena terlalu banyak berpikir, ia masuk ke tempat mandi umum. Ia membuka pakaian dan masuk ke bak mandi yang penuh dengan air. Tentu saja air di bak meluap dan tumpah ke lantai. Tiba-tiba ia bangkit dan lupa mengenakan pakaian, sambil telanjang bulat lari sepanjang jalan menuju rumahnya. Kepada istrinya ia berteriak, “ Eureka! Eureka!” artinya: “Sudah kutemukan! Sudah kutemukan!”Apa yang ia temukan? Ia menemukan hukum yang kemudian terkenal dengan nama hukum Archimedes, yang bunyinya: “Sebuah benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mendapatkan gaya ke atas seberat zat cair yang didesak oleh benda itu.“ Dengan hukum itu ia bermaksud membuktikan kecurangan pandai emas.
Setiba di rumah, Archimedes menimbang emas murni seberatmahkota raja.Emas murni lalu dimasukkan ke dalam baskom yang penuh air.Air yang meluap ditampung dan ditimbangnya. Kemudian ia mencelupkan mahkota ke baskom kedua yang juga penuh air. Baskom pertama dan kedua sama besarnya. Ternyata air yang meluap dari baskom kedua lebih banyak daripada air yang meluap dari baskom pertama.Dari kejadian ini Archimedes tahu, bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni. Bahkan setelah ia mengadakan pembuktian selanjutnya, ia dapat tahu dengan tepat jumlah emas dan perak dalam mahkota itu. Bagaimana penjelasannya?
Ambil bola plasitik yang sebesar kepala.Kemudian ambillah batu yang seberat plastik itu. Ambillah dua ember yang sama besar dan telah disisi air dengan penuh. Kemudian celupkan batu itu ke dalam ember kedua dan bola plastik ke dalam ember pertama.Maka air yang tumpah dari ember pertama lebih banyak dari pada air yang tumpah dari ember kedua.Mengapa?Karena benda yang ringan (bola plastik, perak) mempunyai volume lebih besar daripada benda yang berat (batu emas).Demikian juga perak memindahkan air lebih banyak daripada emas.

KEGIATAN
1. Siapakah Archimedes ?
2. Apa saja yang bisa diteladani dari biografi tersebut?
3. Sebutkan hal-hal menarik dari bacaan tersebut?
4. Berdasarkan bacaan tersebut, Apakah yang dimaksud dengan biografi?
7.3. Kata Penghubung
Perhatikan kalimat berikut!
1. Karena jalan licin, sehingga kami berjalan dengan sangat hati-hati di jalan setapak ini.
2. Ia terjatuh dari sepeda motor sehingga akibatnya kakinya patah.
Bentuk yang benar harusnya:
1. Karena jalan licin, kami berjalan dengan sangat hatihati di jalan setapak ini.
Pada kalimat di atas anak kalimatnya berupa anak kalimat keterangan sebab.
2. Jalan licin sehingga kami berjalan dengan sangat hatihati di jalan setapak ini.
Bentuk yang benar dari kalimat kedua seharusnya:
1. Ia terjatuh dari sepeda motor sehingga kakinya patah.
2. Ia terjatuh dari sepeda motor akibatnya kakinya patah.
Kata penghubung penanda hubungan akibat meliputi: sehingga, hingga, sampai, sampai-sampai, akibatnya, dan maka. Jadi kata penghubung berfungsi mengantarkan suatu kalimat atau menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Sebagian kata penghubung posisinya hanya diletakkan di depan kalimat. Jadi, sebenarnya dia bukan menghubungkan kalimat tetapi berfungsi sebagai pengantar kalimat.

Uji Kompetensi
1. Kembangkanlah klausa berikut ini agar menjadi kalimat majemuk bertingkat hubungan sebab yang efektif.
1) Kami tidak setuju maka … .
2) … sehingga orang tuanya marah-marah.
3) Paman sangat marah kepadaku sampai-sampai … .
4) … akibatnya buku itu rusak.
5) Semalaman ia mengerjakan PR matematika sampai … .
2. Susunlah sebuah kalimat majemuk bertingkat yang efektif menggunakan kata penghubung berikut:
a) sehingga
b) hingga
c) sampai
d) akibatnya
e) maka

Comments are closed.

Stop censorship